Pasuruan, Kompasone.com – Jumlah pelanggaran lalu lintas selama Operasi Patuh Semeru 2025 di wilayah hukum Polres Pasuruan tercatat menurun dibanding tahun sebelumnya. Namun, aparat kepolisian menilai penurunan tersebut belum mencerminkan tumbuhnya kesadaran berlalu lintas masyarakat secara menyeluruh.
Berdasarkan data resmi dari Satlantas Polres Pasuruan, total pelanggaran selama tujuh hari pelaksanaan operasi mencapai 124.503 kasus. Angka itu menurun dari 139.442 kasus pada periode yang sama tahun 2024.
Kapolres Pasuruan AKBP Jazuli Iriawan menyatakan bahwa meskipun terjadi penurunan, masyarakat belum menunjukkan perubahan signifikan dalam hal kedisiplinan di jalan raya. "Kami melihat penurunan ini lebih disebabkan oleh intensitas penindakan, bukan karena kesadaran yang meningkat," kata Jazuli, Senin (21/7).
Ia merinci, dari total pelanggaran, tilang manual tercatat 29.659 kasus, tilang melalui ETLE mobile 9.900 kasus, dan ETLE statis 9.245 kasus. Sementara teguran kepada pelanggar mencapai 75.699, turun dari 101.966 tahun sebelumnya.
Namun, jika dibandingkan dengan data tujuh hari sebelum operasi dimulai, terjadi lonjakan tajam. Dari hanya 4.917 pelanggaran meningkat menjadi lebih dari 124 ribu saat operasi berlangsung. Peningkatan drastis ini menandakan tingginya pelanggaran yang tersembunyi tanpa adanya operasi rutin.
Puncak pelanggaran terjadi pada 17 Juli 2025 dengan 21.520 kasus dalam satu hari. Polisi mencatat pelanggaran terbanyak meliputi penggunaan knalpot tidak standar, tidak memakai helm, dan pengendara di bawah umur.
Sejumlah warga pun mengomentari kondisi tersebut. Siti Nur Aini (34), warga Kecamatan Bangil, mengatakan penurunan angka pelanggaran tak selalu berarti masyarakat sudah patuh. “Biasanya takut kalau ada razia. Tapi setelah operasi selesai, banyak yang kembali ugal-ugalan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ahmad Fikri (42), warga Pandaan. Ia menilai edukasi belum merata. “Banyak yang belum paham pentingnya keselamatan. Harusnya bukan cuma penindakan, tapi juga penyuluhan rutin di sekolah dan komunitas,” ucapnya.
Kapolres memastikan pihaknya akan mengevaluasi strategi penindakan ke depan dengan pendekatan yang lebih humanis. “Kami akan intensifkan sosialisasi agar perilaku berkendara yang aman jadi budaya, bukan sekadar karena takut ditilang,” jelas AKBP Jazuli.
Operasi Patuh Semeru 2025 bukan semata penegakan hukum, melainkan bagian dari kampanye besar keselamatan jalan. Kepolisian berharap kerja sama aktif dari masyarakat agar pelanggaran bisa terus ditekan secara berkelanjutan, bukan hanya musiman.
Muh