Jakarta, Kompasone.com -- Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Kamis, 10 September 2026 pukul 09.10.57 WIB. Letusan berlangsung selama sekitar 17 detik dengan amplitudo maksimum 47 milimeter.
Meski durasinya singkat, aktivitas vulkanik gunung yang berada di Selat Sunda ini belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Rangkaian Erupsi Masih Berlanjut :
Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, hingga pukul 06.00 WIB hari yang sama telah tercatat 13 kali erupsi tipe Strombolian sejak berakhirnya episode erupsi menerus sebelumnya.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama kurang lebih 25 jam. Dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Setelah itu, pola aktivitas kembali ke Strombolian, yaitu letusan-letusan singkat yang muncul secara berkala.
Status Siaga Level III :
Badan Geologi menegaskan status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026 saat aktivitas meningkat dari Level II Waspada.
Pada level Siaga, masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi. Potensi bahaya seperti lontaran batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, hingga aliran lava masih menjadi perhatian.
Warga pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya pada kabar yang mengaitkan erupsi dengan kepastian tsunami.
“Informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, dan BPBD harus menjadi rujukan utama masyarakat,” tegas Badan Geologi dalam keterangannya.
Peran Informasi di Tengah Bencana :
Secara administratif, Gunung Anak Krakatau berada di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pemantauannya dilakukan melalui Pos PGA Anak Krakatau di Kalianda dan Pasauran.
Badan Geologi juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarluaskan video atau informasi erupsi yang belum diverifikasi. Pada Juli 2026 lalu, beredar video di media sosial yang diklaim erupsi Anak Krakatau, namun setelah dicek ternyata bukan rekaman terbaru.
Lulu Zaerina, A.Md.Kom ikut menyampaikan:
“Sebagai jurnalis, tugas kami bukan hanya menyampaikan bahwa Anak Krakatau kembali erupsi. Tugas kami adalah memastikan informasi yang sampai ke masyarakat itu akurat, tenang, dan tidak menimbulkan kepanikan. Erupsi 17 detik pagi ini mengingatkan kita bahwa alam punya waktunya sendiri. Yang bisa kita lakukan adalah mengikuti data resmi, menjaga jarak aman, dan tidak menyebarkan hoaks. Mari jadi masyarakat yang cerdas bermedia. Tenang, waspada, dan peduli sesama.”
Masyarakat dapat memantau perkembangan aktivitas gunung melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia.
"Anak Krakatau pagi itu hanya bergemuruh selama 17 detik. Namun di balik keindahan Selat Sunda, mengingatkan kita bahwa alam punya waktunya sendiri," tutupnya.
( Ahmad S )
