Yogyakarta, Kompasone.com – Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, S.Sos., M.Si., M.Sc., menghadiri Penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya Presiden Republik Indonesia Tahun 2026 yang digelar Pemda DIY di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Senin (7/9/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 400 peserta tersebut turut dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Seslem AAU Marsma TNI Harry Sofian E., S.I.P., M.H., Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Toto Ginanto, S.T., M.A.P., M.Han., Wakapolda DIY Brigjen Pol. Eddy Djunaedi, S.I.K., Kajati DIY Sri Kuncoro, S.H., M.Si., serta jajaran Forkopimda DIY dan pimpinan instansi vertikal maupun Pemerintah Daerah se-DIY.
Penganugerahan Satyalancana Karya Satya diberikan sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, dan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah menjalankan tugas secara terus-menerus selama 10, 20, dan 30 tahun.
Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh penerima penghargaan. Menurutnya, Satyalancana Karya Satya hendaknya tidak hanya dipandang sebagai bentuk apresiasi atas lamanya masa pengabdian, tetapi juga sebagai pengingat akan kehormatan dan amanah yang melekat dalam setiap tugas.
“Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun adalah hitungan masa kerja. Tetapi satya tidak dihitung oleh kalender. Satya diuji oleh keteguhan menjaga amanah, ketika jabatan berubah, zaman berganti, dan tantangan pelayanan datang silih berganti,” ungkap Sri Sultan.
Sri Sultan juga mengingatkan bahwa pengabdian di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial menuntut aparatur untuk terus belajar dan beradaptasi. Kesetiaan kepada negara, menurutnya, bukan berarti mempertahankan cara-cara lama, melainkan memiliki keberanian untuk berubah dan memperbaiki kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pengalaman para penerima Satyalancana Karya Satya diharapkan tidak berhenti sebagai catatan perjalanan pengabdian, tetapi dapat diwariskan kepada generasi penerus melalui keteladanan, integritas, etos kerja, dan kebijaksanaan.
“Dalam khazanah Jawa, kita mengenal laku sepi ing pamrih, rame ing gawe. Bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan penghargaan sebagai tujuan,” tutur Sri Sultan.
Penganugerahan Satyalancana Karya Satya menjadi momentum untuk menghargai dedikasi para aparatur sekaligus mendorong peningkatan pengabdian dan prestasi kerja. Penghargaan tersebut diharapkan semakin memperkuat semangat memberikan pelayanan terbaik serta menjadi teladan bagi aparatur lainnya.
Bagi para penerima, tanda kehormatan yang disematkan bukanlah akhir dari perjalanan pengabdian, melainkan pengingat untuk terus menjaga integritas, meningkatkan profesionalisme, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
( Mbah Pri )
