Yogyakarta, kompasone.com- Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Dr. Shulbi Muthi Sabila SP, S.I.Kom., M.I.Kom., menyoroti peran algoritma media sosial dalam membentuk cara masyarakat memahami realitas pada era digital. Menurutnya, informasi yang muncul di linimasa pengguna merupakan hasil proses seleksi dan personalisasi yang dilakukan oleh platform digital, bukan gambaran utuh dari seluruh peristiwa yang terjadi.
Hal ini dijelaskan Shulbi, saat ditemui di Kampus Terpadu UWM Banyuraden Gamping Sleman belum lama ini, bahwa setiap pengguna media sosial menerima tampilan informasi yang berbeda meskipun menggunakan platform yang sama. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jejak digital, seperti riwayat pencarian, interaksi, dan minat pengguna, yang kemudian menjadi dasar algoritma dalam menyusun konten yang ditampilkan.
"Yang muncul di layar kita bukanlah keseluruhan dunia, melainkan dunia yang telah dipilihkan untuk kita," ujarnya.
Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan teori Social Construction of Reality yang dikemukakan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Menurutnya, proses konstruksi realitas pada era digital tidak lagi hanya dilakukan oleh media massa, tetapi juga oleh platform digital melalui algoritma yang bekerja secara terus-menerus dalam menyeleksi, mengulang, dan mendistribusikan informasi.
Selain itu, Shulbi menilai karakter media digital yang mengedepankan otomatisasi, variabilitas, dan personalisasi sebagaimana dijelaskan dalam teori New Media Lev Manovich telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Informasi tidak lagi disajikan secara seragam kepada semua pengguna, melainkan disesuaikan dengan preferensi masing-masing individu.
Menurutnya, mekanisme tersebut memang membuat pengalaman bermedia sosial terasa lebih relevan. Namun, kondisi itu juga berpotensi mempersempit ruang pandang pengguna karena mereka lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan minat dan keyakinannya sendiri.
Shulbi juga menyoroti bagaimana sebuah isu dapat mendominasi perhatian publik ketika menjadi viral di media sosial. Ia menyebut fenomena tersebut menunjukkan bahwa teori Agenda Setting tetap relevan pada era digital, meskipun kini pembentukan agenda publik diperkuat oleh algoritma yang bekerja secara personal pada setiap akun pengguna.
Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa cara sebuah peristiwa dipersepsikan masyarakat turut dipengaruhi oleh proses framing atau pembingkaian informasi. Peristiwa yang sama dapat dimaknai secara berbeda bergantung pada aspek mana yang lebih banyak ditonjolkan dalam penyajiannya.
Fenomena serupa, lanjutnya, juga terlihat pada konten kehidupan sehari-hari di media sosial yang kerap menampilkan rumah estetik, tubuh ideal, karier yang terus berkembang, maupun gaya hidup tertentu. Menurut Shulbi, paparan konten semacam itu dapat memengaruhi standar masyarakat mengenai kehidupan yang dianggap normal karena banyak konten telah melalui proses seleksi, penyuntingan, bahkan rekayasa visual.
Ia menegaskan bahwa tantangan utama masyarakat digital saat ini bukan hanya membedakan informasi yang benar dan salah, tetapi juga memahami bahwa realitas yang hadir di layar merupakan hasil proses komunikasi yang melibatkan seleksi, personalisasi, pembingkaian, dan pengulangan informasi.
Shulbi berharap masyarakat semakin kritis dalam mengonsumsi informasi digital serta tidak menganggap seluruh konten yang muncul di media sosial sebagai representasi objektif dari kenyataan. Menurutnya, kemampuan memahami cara kerja algoritma menjadi bagian penting dari literasi digital di tengah derasnya arus informasi saat ini.
Bhenu
