![]() |
| Dr. H. Yuswanto Hery Purnama, S.E., M.M., CHRM |
Ditengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, isu employee wellbeing dan kesehatan mental kini menjadi perhatian utama organisasi modern. Perusahaan tidak lagi bisa memandang kesehatan mental sebagai persoalan pribadi karyawan semata.
Kesejahteraan mental sudah menjadi faktor strategis yang berpengaruh langsung terhadap produktivitas, loyalitas, dan keberlanjutan bisnis.
Tekanan kerja yang tinggi, target yang agresif, tuntutan adaptasi teknologi, serta budaya kerja yang kompetitif membuat banyak pekerja mengalami stres berkepanjangan.
Kondisi ini diperparah oleh perkembangan teknologi digital yang membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin kabur. Akibatnya, banyak karyawan mengalami burnout, kehilangan motivasi, hingga gangguan kesehatan mental.
Laporan SHRM 2025 Insights: Workplace Mental Health mengungkap bahwa kesehatan mental di tempat kerja telah menjadi tantangan serius bagi organisasi modern. Survei ini melibatkan: 1.193 pekerja di Amerika Serikat, 2.076 profesional HR, serta 16.000 pekerja global. Bekerja sampai stres berat sering kali dianggap "wajar" demi sukses. Padahal, dunia kerja kita sedang tidak baik-baik saja. Lelah mental bukan lagi sekadar keluhan personal, melainkan krisis nyata yang sedang dialami oleh orang-orang di sekitar kita.
Coba kita lihat faktanya: 52% karyawan saat ini sudah terjebak dalam burnout kronis, dan 40% secara blak-blakan mengaku bahwa pekerjaan mereka merusak kesehatan mental. Kondisi ini jauh lebih menyedihkan bagi Gen Z yang baru mulai meniti karier. Sebanyak 91% Gen Z kewalahan menghadapi tekanan mental di kantor, bahkan 35% di antaranya sampai mengalami depresi. Mereka bukan generasi yang manja; mereka hanya kelelahan menghadapi ekspektasi dunia kerja modern yang makin tidak masuk akal.
Dampaknya pun langsung memukul balik perusahaan. Pekerja yang sudah burnout punya kecenderungan 3 kali lebih besar untuk buru-buru nyari kerjaan baru. Jangan heran kalau angka turnover karyawan makin tinggi. Selain itu, produktivitas jelas merosot karena hanya 40% pekerja burnout yang masih sanggup memberikan performa ekstra. Sisanya? Bekerja ala kadarnya (quiet quitting) demi bertahan hidup.
Data terbaru menunjukkan bahwa masalah ini semakin serius.
Laporan SHRM 2025 Insights: Workplace Mental Health menyebutkan bahwa lebih dari 52% pekerja mengalami burnout kronis, sementara empat dari sepuluh pekerja mengaku pekerjaan berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka. Generasi Z menjadi kelompok paling rentan, dengan 91% mengaku sering menghadapi tantangan kesehatan mental di tempat kerja.
Berdasarkan laporan Workplace Wellbeing 360 Report 2025 dan berbagai publikasi terkait, kondisi kesejahteraan mental pekerja Indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Skor kesejahteraan di tempat kerja (Workplace Wellbeing) kita baru menyentuh 53,26%, tertinggal di bawah rata-rata global. Kita juga tampak keteteran mengelola tekanan, di mana skor manajemen stres (Stress Management) pekerja kita hanya 50,98%, kalah dibanding rata-rata dunia yang sudah mencapai 58,62%. Angka-angka ini adalah cerminan dari banyaknya pekerja yang cemas dan kelelahan di balik meja kerja mereka.
Kondisi psikologis yang rapuh ini otomatis memukul produktivitas kita yang tertahan di angka 43,48%. Masalah terbesarnya bukan karena karyawan kita malas atau suka bolos—karena angka absen (absenteeism) nyatanya sangat rendah, hanya 7,69%. Petaka aslinya ada pada angka presenteeism yang mencapai 41,2%. Artinya, hampir separuh pekerja di Indonesia seolah-olah "hadir" secara fisik di kantor, tetapi pikiran, fokus, dan energinya sudah lama absen karena telanjur lelah. Mereka terjebak dalam mode bertahan hidup, bekerja tanpa nyawa.
Memaksa karyawan sekadar datang dan duduk diam tanpa memedulikan kesehatan mental mereka adalah cara instan merusak produktivitas. Sudah saatnya para pemimpin perusahaan sadar bahwa bisnis yang bertumbuh tidak bisa dibangun di atas punggung pekerja yang sedang layu.
Di Indonesia, kondisi wellbeing pekerja juga masih tergolong rendah. Workplace Wellbeing 360 Report 2025 menunjukkan skor wellbeing pekerja Indonesia hanya sekitar 53,26%, lebih rendah dibanding Malaysia dan Singapura. Bahkan tingkat produktivitas pekerja Indonesia tercatat berada di bawah rata-rata global.
Selain itu, survei PwC Indonesia tahun 2025 menunjukkan bahwa transformasi AI di dunia kerja juga meningkatkan tekanan psikologis karyawan. Sebanyak 54% pekerja telah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, namun banyak pekerja merasa cemas terhadap perubahan pekerjaan, kesenjangan keterampilan, dan ketidakpastian karier.
Laporan PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 – Indonesia menunjukkan bahwa transformasi AI mulai mengubah cara kerja, produktivitas, dan pola karier pekerja Indonesia secara signifikan.
Di meja-meja kantor hari ini, Kecerdasan Buatan atau AI bukan lagi teknologi masa depan yang asing. Ia sudah menjadi "teman sebangku" baru yang nyata bagi sebagian besar pekerja kita. Buktinya, 54% pekerja di Indonesia sudah mulai memanfaatkan AI dalam setahun terakhir, bahkan 14% di antaranya menggunakannya setiap hari di tempat kerja.
Kehadiran asisten digital ini diakui membawa angin segar, mayoritas pengguna merasa kerjanya jadi lebih produktif, dan lebih dari 80% optimis bahwa kualitas hasil kerja mereka ikut terdongkrak naik.
Namun, di balik layar laptop yang makin pintar, ada rasa cemas yang diam-diam menggelayut di benak para pekerja. Adopsi teknologi ini berjalan beriringan dengan kekhawatiran yang sangat tinggi tentang masa depan karier mereka. Muncul kegelisahan yang nyata mengenai keamanan kerja (job security) dan bagaimana peran mereka di kantor akan berubah ke depannya.
Para pekerja kini dihadapkan pada tekanan besar untuk terus-menerus mempelajari skill baru agar tidak ketinggalan zaman.
AI memang bisa menyelesaikan tugas kita dengan super cepat, tetapi ia tidak memiliki empati dan kreativitas murni khas manusia. Di era transisi ini, tantangan terbesarnya bukan sekadar bagaimana membuat teknologi jadi makin canggih, melainkan bagaimana kita bisa memanfaatkannya tanpa mengorbankan rasa aman dan kesejahteraan manusia yang mengoperasikannya.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa perusahaan perlu mengubah cara pandang terhadap sumber daya manusia. Karyawan bukan sekadar aset produksi, tetapi manusia yang memiliki kebutuhan psikologis, emosional, dan sosial. Organisasi yang hanya mengejar target tanpa memperhatikan wellbeing karyawan berisiko menghadapi tingginya turnover, menurunnya engagement, serta rendahnya inovasi kerja.
Karena itu, perusahaan perlu membangun budaya kerja yang lebih sehat dan manusiawi. Program wellbeing tidak cukup hanya berupa kegiatan seremonial atau team building sesaat.
Perusahaan perlu menghadirkan kebijakan yang nyata, seperti fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang lebih realistis, layanan konseling, pelatihan manajemen stres, hingga kepemimpinan yang empatik.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa dukungan atasan dan kondisi psikologis positif memiliki pengaruh besar terhadap workplace wellbeing. Sebuah penelitian di Indonesia tahun 2025 menemukan bahwa kualitas hubungan antara pemimpin dan karyawan serta psychological capital memberikan kontribusi signifikan terhadap wellbeing pekerja hingga sebesar 65,3%.
Di sisi lain, generasi muda saat ini semakin selektif memilih tempat kerja. Mereka tidak hanya mempertimbangkan gaji, tetapi juga budaya organisasi, keseimbangan hidup, dan dukungan terhadap kesehatan mental. Oleh sebab itu, perusahaan yang mampu menciptakan lingkungan kerja sehat akan lebih mudah mempertahankan talenta terbaiknya.
Employee wellbeing dan mental health kini menjadi faktor strategis dalam keberhasilan organisasi modern. Tingginya burnout, tekanan kerja, serta perubahan akibat transformasi AI menunjukkan bahwa perusahaan perlu mengubah paradigma pengelolaan SDM.
Karyawan tidak lagi hanya dipandang sebagai aset produktivitas, tetapi sebagai manusia yang membutuhkan kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial.
Organisasi yang mampu menciptakan lingkungan kerja sehat akan memperoleh: produktivitas lebih tinggi, engagement yang kuat, loyalitas karyawan, dan daya saing bisnis yang lebih berkelanjutan.
Sebaliknya, perusahaan yang mengabaikan wellbeing berisiko menghadapi: turnover tinggi, penurunan performa, lemahnya inovasi, dan kehilangan talenta terbaik. Di era kerja modern, keberhasilan perusahaan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga kesejahteraan manusianya.
Pada akhirnya, employee wellbeing dan mental health bukan lagi sekadar isu HR, melainkan investasi strategis perusahaan. Organisasi yang peduli terhadap kesejahteraan mental karyawan akan memiliki tenaga kerja yang lebih produktif, loyal, kreatif, dan siap menghadapi perubahan. Di era bisnis modern, perusahaan yang mampu menjaga manusianya akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih berkelanjutan.
(Dr. H. Yuswanto Hery Purnama, S.E., M.M., CHRM, Dosen Pasca Sarjana Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Anggota ISEI Cabang Yogyakarta, Pengurus IPHI Kota Yogyakarta).
