Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Mesin Tempur Ekonomi Sapeken: Diplomasi Dingin H. Ardi dalam Membela Hak Darat dan Laut

Kamis, April 16, 2026, 17:07 WIB Last Updated 2026-04-16T10:07:43Z

Sumenep, Kompasone.com – Dinamika distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di wilayah kepulauan kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah badai kelangkaan yang mencekik, harga di tingkat pengecer meroket hingga menyentuh angka Rp17.000 hingga Rp20.000 per liter. Kondisi ini menempatkan Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, dalam pusaran ekspektasi dan realita sosial yang kompleks.


Salah satu titik fokus masyarakat adalah APMS milik H. Ardi. Munculnya isu mengenai prioritas pengisian jerigen nelayan dibanding kendaraan bermotor, hingga adanya variasi harga sebesar Rp10.500 per liter, memicu perbincangan hangat di ruang publik.


Menanggapi hal tersebut, H. Ardi, figur pemilik APMS yang dikenal memiliki pembawaan karismatik dan bijaksana, memberikan klarifikasi dengan nada yang tenang namun sarat ketegasan. Baginya, mengatur distribusi di wilayah kepulauan bukan sekadar perkara niaga, melainkan seni menjaga stabilitas sosial.


"Saya telah menerapkan sistem yang paling proporsional untuk masyarakat Sapeken: empat hari dikhususkan bagi kendaraan bermotor, dan empat hari berikutnya untuk jerigen nelayan. Jika tidak diatur secara rigid seperti ini, para petugas kami di lapangan bisa tumbang karena beban psikologis menghadapi desakan konsumen dari darat dan laut yang sama-sama membutuhkan," ujar H. Ardi sembari sedikit berseloroh namun penuh makna.


Terkait selisih harga Rp500 yang menjadi pergunjingan, H. Ardi menjelaskan dengan santun bahwa hal tersebut murni merupakan inisiatif sukarela dari konsumen sebagai bentuk apresiasi atas pelayanan. Nilai tersebut kemudian dikelola oleh para pegawai untuk didonasikan kepada kaum duafa sebuah investasi ukhrawi yang diprioritaskan bagi mereka yang membutuhkan.


Kritik yang sempat mengemuka juga mendapat respons dari aktivis sekaligus pemerhati kebijakan, Rasyid Nadyin. Pria yang akrab disapa "Aktivis Slebor" ini memberikan pandangan yang kontemplatif mengenai sosok H. Ardi.


"Sejujurnya, dulu saya sempat memiliki pandangan yang berbeda. Namun setelah menelaah lebih dalam, saya menyadari bahwa H. Ardi sedang berjuang di garis depan untuk stabilitas ekonomi Sapeken," tutur Rasyid.


Ia menambahkan bahwa penilaian miring dari segelintir pihak seringkali lahir dari miskomunikasi. "Beliau adalah sosok yang tidak menyukai basa-basi. Jika dirasa tidak perlu bicara, beliau lebih memilih diam. Ketegasan inilah yang terkadang disalahartikan oleh mereka yang belum mengenal prinsip beliau secara utuh," pungkasnya.


Potret di Sapeken ini menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan di tingkat regional, bahwa pengelolaan energi di wilayah terluar membutuhkan tangan-tangan dingin yang mampu memadukan ketegasan manajerial dengan nurani kemanusiaan.


Sebagai penutup, kesadaran kolektif mulai tumbuh di tengah masyarakat setelah memahami nawaitu dan mekanisme yang dijalankan oleh pihak APMS. Perwakilan warga menyampaikan apresiasi mendalam atas upaya H. Ardi dalam menjaga denyut nadi ekonomi kepulauan, sembari menitipkan harapan agar keseimbangan distribusi tetap terjaga.


"Kami menyadari bahwa mekanisme yang dibangun beliau bertujuan demi stabilitas kita bersama, namun kami berharap sektor transportasi darat bagi pegawai kantoran, guru, dan pelajar tetap mendapat porsi prioritas agar mobilitas publik tidak stagnan; meski demikian, bagi kami H. Ardi adalah sosok terbaik yang memiliki kepedulian nyata," pungkasnya dengan nada optimis.


(R. M Hendra)

Iklan

iklan