TAPUT, kompasone.com - Hujan belum sepenuhnya hilang dari ingatan warga Dusun Hadataran, Desa Lontung Jae II, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Banjir yang datang pada Sabtu (7/2) bukan hanya merobohkan jembatan penghubung antar dusun, tetapi juga meninggalkan kecemasan warga.
Dalam situasi itu, pemkab Taput datang lebih awal. Dua hari setelah kejadian, sebelum keluhan berubah menjadi keputusasaan, Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran (JTP) Hutabarat menapaki Hadataran, Senin (9/2).
Dia datang bersama pimpinan perangkat daerah teknis, Camat Garoga, dan Kepala Desa Lontung Jae II, meninjau langsung jembatan runtuh dan menemui warga yang masih dihantui rasa cemas.
Bagi warga, jembatan itu bukan sekadar lintasan fisik namun jalur hidup tempat petani membawa hasil kebun, anak-anak menyeberang, dan warga saling terhubung.
Bupati JTP mengatakan, begitu menerima informasi mengenai banjir dan kerusakan jembatan dirinya langsung menggeser agenda kerja lainnya.
Keputusan itu, menurutnya, merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk hadir sedini mungkin saat masyarakat tertimpa musibah.
“Begitu saya menerima informasi banjir dan jembatan putus ini, saya langsung hadir ke Hadataran. Agenda lain saya tunda. Kerusakan ini harus segera ditangani agar konektivitas antar dusun kembali terhubung dan lahan pertanian masyarakat bisa diakses kembali,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, kata Bupati, akan segera melakukan perbaikan jembatan melalui gotong royong bersama pemerintah desa dan masyarakat Dusun Hadataran.
Dukungan teknis dan material disiapkan agar pemulihan akses tidak berlarut dan aktivitas warga bisa segera berjalan kembali.
Kehadiran cepat tersebut memberi dampak psikologis bagi warga. Di tengah ketidakpastian, melihat pemimpin daerah berdiri di tepi jembatan yang runtuh, mendengar langsung keluhan, dan menyampaikan rencana tindak lanjut, menjadi penanda bahwa negara tidak menunggu jarak untuk bertindak.
Tokoh masyarakat Dusun Hadataran, Mardin Pardosi, mengaku kehadiran pemerintah di hari-hari awal pascabencana memberi ketenangan tersendiri.
“Kami belum sempat banyak mengadu, tapi Bapak Bupati sudah datang. Itu membuat kami merasa tidak ditinggalkan,” katanya.
Menjelang sore, warga masih berdiri di sekitar jembatan yang runtuh. Sungai mulai surut, tetapi ingatan tentang banjir belum sepenuhnya pergi.
Namun kali ini, kegelisahan itu ditemani kepastian bahwa pemulihan sedang dipikirkan, dan negara telah hadir lebih awal.
Bagi warga Hadataran, jembatan yang runtuh memang harus dibangun kembali. Tetapi yang lebih penting, kehadiran negara di hari-hari awal pascabencana telah lebih dulu menyambung keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi bencana sendirian.
(Bernat L Gaol)

