![]() |
| Cahya Purnama Asri |
Pernahkah Anda merasa bahwa dunia saat ini bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya? Kita hidup di era di mana teknologi yang dianggap revolusioner tahun lalu bisa menjadi usang dalam hitungan bulan. Dalam pusaran perubahan yang disebut sebagai Revolusi Industri 4.0 dan menuju 5.0 ini, banyak organisasi terjebak dalam perlombaan senjata teknologi. Mereka membeli perangkat lunak termahal, mengadopsi kecerdasan buatan (AI) terbaru, dan bermigrasi ke komputasi awan (cloud). Namun, banyak dari mereka tetap gagal. Mengapa? Karena mereka melupakan satu elemen fundamental yaitu manusia yang memegang kemudi.
Kepemimpinan Digital (Digital Leadership) bukan sekadar tentang seorang CEO yang mahir menggunakan gawai atau aktif di media sosial. Ini adalah tentang paradigma baru dalam memimpin manusia, mengelola ekspektasi, dan merajut visi di tengah ketidakpastian yang absolut. Hal ini sejalan dengan Leonardi & Neeley (2022) dalam buku "The Digital Mindset".
Selama berabad-abad, kepemimpinan sering kali identik dengan hierarki, kontrol, dan stabilitas. Seorang pemimpin adalah mereka yang memiliki jawaban atas semua pertanyaan dan memberikan instruksi dari atas ke bawah. Namun, di era digital, model "Command and Control" ini telah mati.
Kepemimpinan digital merupakan kepemimpinan yang terdistribusi. Di dunia yang terhubung secara digital, informasi tidak lagi menjadi milik eksklusif mereka yang berada di puncak organisasi.
Pengetahuan tersebar di seluruh level. Oleh karena itu, tugas seorang pemimpin digital bukan lagi menjadi "orang terpintar di ruangan," melainkan menjadi "fasilitator terbaik bagi kecerdasan kolektif."
Seorang pemimpin digital harus memiliki apa yang kita sebut sebagai Digital Mindset. Ini bukan berarti mereka harus bisa menulis kode (coding), tetapi mereka harus memahami bagaimana teknologi mengubah perilaku manusia, cara kerja pasar, dan dinamika persaingan. Mereka harus mampu melihat peluang di mana orang lain hanya melihat ancaman.
Penelitian Ding (2026) menunjukkan tiga pilar utama yang menyangga kepemimpinan digital yang efektif yaitu Visi Strategis, Orientasi Digital, dan Kelincahan (Agility).
Pemimpin digital tidak melihat teknologi sebagai biaya (cost), melainkan sebagai enabler. Visi mereka bukan hanya tentang bagaimana meningkatkan margin keuntungan sebesar 5% tahun depan, tetapi tentang bagaimana organisasi tetap relevan dalam 10 tahun ke depan. Mereka berani bertanya: "Jika bisnis kita diatur ulang dari nol hari ini dengan teknologi yang ada, seperti apa bentuknya?"
Orientasi digital adalah komitmen untuk menempatkan solusi digital sebagai jantung dari strategi bisnis. Ini melibatkan keberanian untuk melakukan kanibalisasi terhadap produk sendiri sebelum kompetitor melakukannya. Kita bisa belajar dari kegagalan Kodak yang menemukan kamera digital tetapi takut merusak bisnis film mereka, dibandingkan dengan Netflix yang berani mengubah model bisnis dari penyewaan DVD fisik menjadi streaming. Pemimpin digital adalah mereka yang memilih untuk berinovasi meskipun itu terasa tidak nyaman.
Dalam dunia digital, kecepatan lebih berharga daripada kesempurnaan. Pemimpin digital mengadopsi prinsip "fail fast, learn faster." Mereka menciptakan lingkungan di mana eksperimen dihargai. Jika sebuah proyek gagal, fokusnya bukan pada mencari siapa yang salah, tetapi pada data apa yang bisa dipelajari untuk iterasi berikutnya.
Strategi digital akan dimakan oleh budaya organisasi saat sarapan pagi. Anda bisa memiliki teknologi tercanggih, tetapi jika budaya organisasi Anda masih kaku dan penuh ketakutan, teknologi tersebut hanya akan menjadi hiasan.
Kepemimpinan digital memiliki peran vital sebagai arsitek budaya. Budaya digital ditandai oleh transparansi, yaitu Informasi dibagikan secara terbuka untuk mempercepat pengambilan keputusan. Melalui kolaborasi lintas fungsi dapat menghilangkan ego departemen (silo) dan mendorong tim yang beragam untuk bekerja sama.
Seorang pemimpin digital yang "humanis" memahami bahwa perubahan teknologi sering kali memicu kecemasan pada karyawan—takut digantikan oleh mesin atau takut tidak mampu belajar. Di sinilah kepemimpinan digital bertemu dengan empati. Pemimpin harus mampu meyakinkan timnya bahwa teknologi ada untuk memperkuat kapabilitas manusia, bukan untuk menyingkirkannya.
Saat ini kita mulai memasuki era Industri 5.0, di mana fokusnya kembali ke kolaborasi antara manusia dan mesin dengan penekanan pada kesejahteraan manusia dan keberlanjutan. Kepemimpinan digital di fase ini menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar efisiensi.
Pemimpin digital harus bergulat dengan pertanyaan etika yang kompleks. Bagaimana kita menggunakan data pelanggan dengan bertanggung jawab? Bagaimana kita memastikan algoritma AI tidak bias? Seorang pemimpin yang hanya mengejar angka tanpa mempertimbangkan etika digital akan segera kehilangan kepercayaan dari publik. Di era ini, kepercayaan (trust) adalah mata uang yang paling berharga.
Kepemimpinan digital juga berarti mengetahui kapan harus "mematikan koneksi." Dengan budaya kerja jarak jauh (remote work) dan ekspektasi untuk selalu tersedia, risiko kelelahan mental (burnout) meningkat drastis. Pemimpin digital yang bijak adalah mereka yang mempromosikan keseimbangan kerja dan kehidupan, karena mereka tahu bahwa kreativitas tidak bisa lahir dari otak yang kelelahan.
Kita membutuhkan pemimpin di sektor publik maupun swasta yang tidak hanya "melek teknologi," tetapi juga mampu melakukan transformasi organisasi secara struktural. Pemimpin yang mampu membawa UMKM kita naik kelas melalui digitalisasi, dan pemimpin yang mampu mereformasi birokrasi agar lebih responsif terhadap kebutuhan warga melalui layanan e-government yang mumpuni.
Mungkin Anda bertanya, "Apakah saya bisa menjadi pemimpin digital?" Jawabannya adalah ya, karena kepemimpinan digital adalah keterampilan yang bisa dipelajari, bukan bakat lahir.
Jadilah pembelajar seumur hidup (lifelong learner). Jangan pernah merasa sudah tahu segalanya. Bacalah jurnal, ikuti kursus daring, dan tetaplah penasaran dengan tren teknologi terbaru.
Dengarkan generasi yang lebih muda. Seringkali, karyawan junior lebih memahami dinamika digital. Jangan ragu untuk melakukan reverse mentoring, di mana Anda belajar dari mereka yang lebih muda.
Bangun keamanan psikologis dengan tim dengan memastikan anggota tim Anda tidak takut untuk mengusulkan ide gila atau melaporkan kegagalan. Inovasi hanya tumbuh di tanah yang subur akan rasa aman.
Berfokus pada masalah, bukan alat. Jangan membeli teknologi hanya karena tren. Identifikasi dulu masalah apa yang ingin diselesaikan, baru cari teknologi yang tepat untuk menyelesaikannya.
Kepemimpinan digital bukanlah tentang mesin, bit, atau byte. Kepemimpinan digital adalah tentang manusia.
Teknologi hanyalah alat dan bisa menjadi pedang yang menghancurkan jika dipegang oleh tangan yang salah, atau menjadi obor yang menerangi jalan jika dipandu oleh pemimpin yang memiliki visi dan empati. Di masa depan, organisasi yang akan menang bukan mereka yang memiliki server paling kuat, melainkan mereka yang memiliki pemimpin yang mampu menginspirasi manusia untuk terus belajar, beradaptasi, dan berkolaborasi dalam harmoni dengan teknologi.
Kita tidak bisa menghentikan ombak perubahan digital, tetapi dengan kepemimpinan yang tepat, kita bisa belajar untuk berselancar di atasnya. Transformasi digital dimulai dari pikiran sang pemimpin, meresap ke dalam budaya organisasi, dan akhirnya memberikan nilai bagi masyarakat luas.
Penulis:
Cahya Purnama Asri
Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram
