![]() |
| Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., |
Yogyakarta, kompasone.com - Peringatan Hari Kacang-kacangan Sedunia (World Pulses Day) setiap 10 Februari menjadi momentum untuk menyoroti peran penting kacang-kacangan dalam mendukung gizi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan. Hari peringatan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2019 ini mendorong peningkatan kesadaran global terhadap manfaat kacang-kacangan kering seperti kacang merah, lentil, kacang polong, dan buncis dalam sistem pangan dunia.
Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., menyatakan kacang-kacangan memiliki nilai strategis karena kaya protein nabati, serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif. Konsumsi rutin kacang-kacangan, menurutnya, berkaitan dengan penurunan risiko penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan obesitas.
“Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, kacang-kacangan relevan untuk mengatasi beban ganda masalah gizi, yakni kekurangan dan kelebihan gizi sekaligus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di tengah persoalan stunting, anemia, dan kerawanan pangan di sejumlah wilayah Indonesia, kacang-kacangan dapat menjadi sumber gizi yang terjangkau. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga menilai komoditas ini berpotensi membantu mengatasi kurang gizi sekaligus menjaga keterjangkauan pangan.
Namun, pola konsumsi global saat ini masih didominasi protein hewani dan pangan ultra-proses. Kondisi ini dipengaruhi faktor budaya konsumsi, industrialisasi pangan, serta persepsi sosial yang mengaitkan konsumsi daging dengan status ekonomi lebih tinggi. Akibatnya, pangan berbasis kacang kerap dipandang sebagai pangan kelas dua.
Dari sisi lingkungan, kacang-kacangan dinilai lebih ramah iklim karena menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih rendah dibandingkan produksi protein hewani. Tanaman kacang juga mampu memperbaiki kualitas tanah melalui fiksasi nitrogen sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis.
Selain itu, kacang-kacangan relatif tahan terhadap kondisi iklim ekstrem, mudah dibudidayakan, dan memiliki daya simpan panjang, sehingga dinilai relevan dalam menghadapi ketidakpastian produksi pangan dan gangguan rantai pasok global.
Indonesia sendiri memiliki keanekaragaman kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan kacang merah. Meski demikian, pemanfaatannya dinilai belum optimal secara industri. Produk seperti tempe telah dikenal luas sebagai pangan fermentasi bergizi, tetapi diversifikasi produk kacang masih terbatas.
Prof. Ambar menilai penguatan komoditas kacang lokal dapat menjadi bagian dari strategi kedaulatan pangan nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia menekankan perlunya pendekatan sistemik melalui kebijakan yang mendukung produksi kacang lokal, edukasi gizi berbasis pangan lokal, serta inovasi teknologi pangan untuk meningkatkan nilai tambah. Industri pangan juga dinilai berperan dalam mengembangkan produk berbasis kacang, termasuk pangan fungsional dan alternatif protein.
Menurutnya, peringatan Hari Kacang-kacangan Sedunia dapat menjadi ajang refleksi untuk mendorong perubahan pola konsumsi dan arah pembangunan pangan ke sistem yang lebih berkelanjutan.
Bhenu
