Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Kudatuli Diperingati, DPC PDIP Pasuruan Tegaskan Komitmen Jaga Demokrasi

Senin, Juli 28, 2025, 11:03 WIB Last Updated 2025-07-28T04:03:43Z

Kota Pasuruan, Kompasone.com – DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan menggelar Saresehan Peringatan Kudatuli pada Minggu malam, 27 Juli 2025. Acara ini berlangsung di Kantor DPC PDIP, Jalan KH. Mas Mansyur No.3, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan refleksi atas peristiwa politik 27 Juli 1996.


Mengusung tema “Kudatuli, Kami Tidak Lupa: Menolak Lupa dan Merawat Demokrasi”, acara tersebut dihadiri jajaran pengurus DPC, anggota Fraksi PDIP DPRD Kota Pasuruan, kader muda, serta tokoh senior partai yang pernah mengalami langsung peristiwa Kudatuli.


Plt Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Tatit Panji, menegaskan bahwa saresehan ini bukanlah rutinitas formalitas belaka. Menurutnya, Kudatuli adalah tonggak penting dalam sejarah partai dan demokrasi Indonesia yang tidak boleh dihapus dari ingatan kolektif bangsa.


“Peristiwa Kudatuli adalah simbol perlawanan. Ia bukan sekadar sejarah, tapi juga api yang membakar semangat kader untuk terus berdiri bersama rakyat,” ujar Tatit dalam sambutannya.


Kudatuli, yang merupakan singkatan dari Kerusuhan Dua Tujuh Juli, terjadi di kantor DPP PDIP Jalan Diponegoro, Jakarta, akibat konflik internal yang dipengaruhi intervensi rezim Orde Baru. Penyerbuan massa mengakibatkan lima korban jiwa, ratusan luka-luka, serta puluhan orang dilaporkan hilang.


Komnas HAM menyimpulkan adanya pelanggaran HAM berat dalam peristiwa itu, termasuk hak untuk hidup dan berserikat yang dilanggar secara sistematis. Hingga kini, kasus ini belum terselesaikan secara tuntas di ranah hukum maupun politik.


Dalam suasana hening, beberapa tokoh partai seperti Bambang Parikesit, Haji Paring Rejeki, dan Jamaludin memberikan kesaksian. Mereka menggambarkan betapa kerasnya tekanan yang mereka hadapi kala itu, namun tetap memilih bertahan demi keberlangsungan partai dan suara rakyat.


“Waktu itu kami tidak punya pilihan selain melawan. Bukan karena kami kuat, tapi karena kami tahu ini soal masa depan demokrasi,” kata Bambang Parikesit.


Haji Paring Rejeki menambahkan, demokrasi hari ini bukan diperoleh secara cuma-cuma. “Anak-anak muda hari ini perlu tahu: partai ini berdiri di atas keberanian, bukan di atas uang,” ujarnya.


Acara ditutup dengan doa bersama untuk para korban Kudatuli yang gugur dalam peristiwa tersebut. Di tengah linangan air mata dan semangat yang terus menyala, kader PDIP Kota Pasuruan menegaskan komitmen mereka untuk tidak pernah melupakan sejarah dan terus menjaga demokrasi.


Muh

Iklan

iklan

-

iklan