TAPUT,kompasone.com - Kepala Aparatur Pengawas Internal Pemerintah (APIP) atau Inspektorat Kabupaten Tapanuli Utara, Erikson Siagian terkesan tidak transparan dan berbelit belit memberikan informasi dalam menindak lanjuti keterlibatan sejumlah personil Satpol PP bekerja sampingan saat jam dinas menjaga dan menumpuk sembako sebagaimana temuan Panwascam Sipoholon 27/9 lalu.
Bahkan Erikson berusaha menghindar dan meminta wartawan untuk tidak merekam saat diwawancarai.
"Tak usah direkam ya," ujarnya menjawab wartawan Jumat (4/10) pagi seraya berusaha menghindar.
Meski dicecar berbagai pertanyaan, Erikson hanya mengaku bahwa pihaknya telah memeriksa personil Satpol PP yang bekerja ikut berperan dalam penumpukan sembako tersebut.
"Sudah kita periksa, dia akui ikut membungkus sembako. Namun dia tidak tahu tujuan nya untuk apa," terang Erikson.
Disinggung soal sangsi yang akan diterapkan bagi personil yang mencari tambahan dengan meninggalkan tugas, lagi lagi Erikson terkesan setengah hati seraya menyebut itu merupakan wewenang atasan langsung.
"Itu nanti wewenang atasan langsung nya," kata Erikson tanpa menyebut siapa atasan langsung tersebut.
Sebelumya diberitakan Panwascam Sipoholon temukan ribuan paket sembako keperluan 'serangan fajar' pilkada menumpuk di kediaman Kasatpol PP Taput Rudi Sitorus
Dalam temuan itu, sejumlah personil Satpol PP setempat turut serta dalam menumpuk paket sembako tersebut.
Bahkan Rudi Sitorus selaku Kasatpol PP Taput saat itu mengakui mempekerjakan anggotanya alasan untuk mencari tambahan penghasilan walaupun saat jam dinas.
"Benar itu bisnis istriku. Anggota membantu untuk menambahi uang masuknya. Kalau sedang tidak ada tugas, tidak salah menambah penghasilan dari yang halal," terangnya.
(Bernat L Gaol)
