Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Miris! Keluarga Ibu Sri Tinggal di Gubuk Reyot di Atas Trotoar, Dikepung Semak yang Rawan Ular, Ketum YPPI Minta Bupati Turun Lapangan

Senin, November 02, 2026, 08:10 WIB Last Updated 2026-11-02T01:10:34Z

Aceh Barat, kompasone.com—  Miris! Ibu Sri, seorang penyandang disabilitas, bersama keluarganya bertahan hidup di sebuah gubuk reyot berdinding papan berukuran sekitar 2×3 meter yang berdiri di atas trotoar jalan, Lingkungan II, Desa Rundeng, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Lebih memprihatinkan lagi, gubuk kecil tersebut berada di tengah semak-semak yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular, sehingga menambah risiko keselamatan bagi keluarga yang tinggal di dalamnya.


Melihat kondisi tersebut, Ketua Umum Yayasan Pusat Peradaban Insani (Ketum YPPI), Ustadz Syamsul Kamal, meminta Bupati Aceh Barat segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi keluarga Ibu Sri dan mendorong solusi konkret agar mereka dapat menempati tempat tinggal yang lebih aman dan layak.


Gubuk berdinding papan yang sangat sederhana itu juga difungsikan sebagai ruang tidur dan dapur. Di tempat yang serba terbatas tersebut, keluarga Ibu Sri berjuang menjalani kehidupan sehari-hari. Suaminya bekerja sebagai nelayan upahan dengan penghasilan tidak menentu, sementara Ibu Sri membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga.


Kondisi ini diketahui tim Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) ketika menyalurkan bantuan sembako melalui program Beras Segenggam, Minggu (1/11/2026). Kebahagiaan karena dapat berbagi berubah menjadi keharuan saat tim menyaksikan langsung keadaan tempat tinggal keluarga tersebut.


Ketum YPPI Minta Bupati Turun, AKQ Siap Gagas Bedah Rumah Berjamaah


Ustadz Syamsul Kamal menilai kondisi keluarga Ibu Sri membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, bantuan sembako penting untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi persoalan tempat tinggal memerlukan langkah yang lebih nyata dan berkelanjutan.


Karena itu, YPPI mendorong Bupati Aceh Barat bersama pemerintah desa dan perangkat terkait untuk meninjau langsung kondisi tersebut serta mendiskusikan solusi yang memungkinkan bagi keluarga Ibu Sri.


Sementara itu, tim AKQ menyatakan kesiapan untuk membantu menggagas gerakan Bedah Rumah Berjamaah, yang direncanakan diawali dengan upaya pengadaan tanah melalui semangat gotong royong dan sedekah masyarakat.


Ustadz Syamsul memberikan gambaran tentang potensi kekuatan sedekah bersama. Jika 2.000 kepala keluarga di Desa Rundeng masing-masing menyumbangkan Rp15.000, dana yang berpotensi terkumpul mencapai Rp30 juta.


Menurutnya, sedekah yang tampak kecil dapat menjadi modal awal untuk memperjuangkan pengadaan tanah bagi keluarga Ibu Sri. Namun, pelaksanaannya perlu melalui koordinasi, kesepakatan masyarakat, kepastian harga dan status tanah, serta pengelolaan dana secara transparan.


Dari Beras Segenggam Menuju Harapan Rumah Layak Huni


Program Beras Segenggam merupakan ikhtiar jamaah AKQ membantu keluarga fakir miskin melalui kumpulan beras dan iuran sedekah anggota. Pada Oktober ini, bantuan disalurkan kepada warga kurang mampu di Desa Rundeng, Kecamatan Johan Pahlawan, dan Desa Pasie Aceh, Kecamatan Meureubo. Sebelumnya, bantuan juga disalurkan kepada warga fakir miskin di Desa Ujong Kalak.


Tim distribusi diwakili Ketua Imarah AKQ, Supiani; Bunda Hikmah AKQ, Ermaini, S.E.; Bunda Insyiriah AKQ, Khadijah, S.P.; Bunda Riayah AKQ, Nurlaila dan Sriwahyuni, A.Md.Keb.; serta Abah Mujahid AKQ, Aminuddin Arsyad dan Aliman.


Kisah Ibu Sri menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan bukan hanya tentang keterbatasan pangan, tetapi juga tentang keselamatan, martabat, dan hak untuk hidup di tempat yang layak.


YPPI berharap pemerintah segera hadir melihat kondisi nyata di lapangan. AKQ pun siap bergandengan tangan dengan masyarakat untuk mengubah keprihatinan menjadi gerakan kepedulian, agar keluarga Ibu Sri tidak terus hidup dalam kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan dan berisiko.


(Koornas-Rj)

Iklan

iklan