Pandeglang, kompasone.com— Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, kembali mengalami erupsi. Aktivitas erupsi tercatat mulai terjadi pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga pengamatan Sabtu (5/9/2026) pukul 06.00 WIB.
Berdasarkan laporan pengamatan periode 4 September 2026 pukul 00.00–24.00 WIB yang dilansir dari laman Magma Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih tergolong tinggi. Status gunung api tersebut berada pada Level III atau Siaga.
Erupsi yang terjadi sekitar pukul 23.07 WIB berlangsung kurang lebih 1 jam 30 menit. Aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lontaran lava berbentuk air mancur.
Secara visual, Gunung Anak Krakatau sempat teramati jelas sebelum kemudian tertutup kabut dengan tingkat 0–III. Asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam, dengan intensitas sedang hingga tebal, dan mencapai ketinggian sekitar 50–400 meter dari puncak.
Aktivitas kegempaan juga masih menunjukkan intensitas tinggi. Selama periode pengamatan tercatat 12 kali gempa letusan atau erupsi, 53 kali gempa hembusan, 54 kali gempa harmonik, 81 kali gempa frekuensi rendah (low frequency), 100 kali gempa hybrid atau fase banyak, satu kali gempa vulkanik dalam, serta empat kali tremor menerus.
Kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dilaporkan cerah hingga berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Suhu udara tercatat 26,5–30,8 derajat Celsius dengan kelembapan 62–84 persen.
Dengan aktivitas vulkanik tersebut, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga).
Kementerian ESDM mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Informasi aktivitas dan rekomendasi keselamatan tersebut mengacu pada hasil pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang disampaikan melalui Magma Indonesia, Kementerian ESDM.
Ali Hamzah
