Nagan Raya,Aceh,kompasone.com - Setelah gelombang penolakan dari berbagai elemen masyarakat terhadap izin penambangan di kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Nagan Raya, mendadak selasa(02/06), Bupati Nagan Raya TR.Keumangan mengumpulkan wartawan yang bertugas di Nagan Raya di pendapa Bupati komplek perkantoran.
Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya besar ada apa kok tiba-tiba mengundang wartawan dengan dalih halal bihalal hari raya idul adha yang sudah lama berlalu.
Padahal dari informasi yang diperoleh dari beberapa awak media sejak pasangan TRK-Sayang dilantik sebagai Bupati dan wakil Bupati Nagan Raya baru satu kali mengadakan konferensi pers dengan para wartawan itupun sekitar 1,5 tahun lalu saat dirinya baru dilantik.
Diduga karena isu penolakan izin tambang semakin gencar disuarakan membuat TRK meradang dan mengundang wartawan untuk meminta dukungan agar publik tidak menyalahkan dirinya yang telah mengumumkan besaran investasi ini sebesar 200 T.
Dalam pertemuan dengan awak media ini Sang Raja IX kerajaan Beutong ini menyinggung banyak nya penolakan dari warga luar Nagan Raya, bahkan dari video yang beredar luas TRK sempat emosi dengan mengatakan bahwa dirinyalah Raja di Beutong Ateuh yang lebih tahu kawasan tersebut.
TRK mengakui dulunya pernah menolak ketika PT EMM yang sudah mengantongi izin penambangan, tapi 2 perusahaan investor kali ini berbeda dengan sebelumnya.Sementara salah seorang tokoh masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Rusli, menegaskan bahwa Beutong bukan hanya milik masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, melainkan bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Aceh secara luas.
Karena itu, ia menilai tidak ada alasan untuk melarang masyarakat dari berbagai daerah memberikan dukungan kepada warga Beutong yang sedang memperjuangkan penolakan terhadap tambang. Sejak Dulu Kami Tolak Tambang Pernyataan itu disampaikan Rusli menanggapi komentar Bupati Nagan Raya yang menyebut keberadaan spanduk penolakan tambang di luar daerah sebagai bentuk pihak-pihak yang tidak menginginkan Nagan Raya berkembang.
Menurut Rusli, dukungan yang muncul dari berbagai daerah di Aceh tidak lahir karena kebencian terhadap pembangunan, melainkan karena adanya hubungan sejarah, kekerabatan, dan Jangan disimpulkan bahwa masyarakat yang mendukung Beutong menolak tambang itu tidak ingin Nagan Raya berkembang.
"Mereka mendukung karena peduli terhadap Beutong dan masa depan daerah ini,” kata Rusli kepada awak media.
(T.Ridwan,SH)
