Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Prof. Mahfud MD: Syawalan mempererat Hubungan Sosial

Rabu, April 01, 2026, 13:06 WIB Last Updated 2026-04-01T06:07:20Z

 


Yogyakarta, kompasone.com - Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menggelar kegiatan Syawalan dan Halalbihalal yang diikuti oleh seluruh Dosen dan Tenaga kependidikan pada Rabu (1/4) di Kampus Terpadu UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman. Kegiatan Syawalan ini juga dihadiri oleh segenap Pengurus Yayasan Mataram Yogyakarta, Mantan Rektor, Purna Tugas Dosen dan Tenaga Kependidikan, Pengurus Alumni, hingga perangkat Desa Banyuraden.


Rektor UWM, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Syawalan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Ia menekankan pentingnya silaturahmi yang dilandasi rasa saling menyayangi dan menghormati.


“Silaturahmi tidak hanya terbatas pada sesama Muslim, tetapi juga mencakup hubungan antarsesama manusia secara luas,” ujarnya. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum ini sebagai ajang mempererat hubungan sosial yang harmonis di lingkungan kampus.


Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Yayasan Mataram Yogyakarta, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD menyampaikan tausiah terkait makna Syawalan dalam perspektif Islam dan budaya Indonesia. Ia menjelaskan bahwa secara ajaran formal, Syawalan tidak secara eksplisit diatur dalam Islam, namun menjadi tradisi positif yang berkembang di masyarakat Indonesia.


“Tradisi yang baik akan menjadi sesuatu yang bernilai kebaikan atau sunnah, sementara tradisi yang buruk akan bernilai sebaliknya,” jelasnya. Ia mencontohkan bahwa praktik seperti judi tetap menjadi haram meskipun dilakukan secara turun-temurun.


Lebih lanjut, Prof. Mahfud menekankan pentingnya sikap saling memaafkan dalam kehidupan sosial. Ia mengingatkan bahwa manusia yang enggan meminta maaf dan memberi maaf berpotensi mendapatkan konsekuensi buruk, sebagaimana ajaran Rasulullah.


Ia juga mengulas konsep “manusia bangkrut”, yaitu individu yang memiliki banyak amal ibadah, namun masih menyimpan kesalahan terhadap sesama yang belum dimaafkan. Hal tersebut dapat mengurangi bahkan menghapus pahala yang telah dikumpulkan selama hidup.


Menurutnya, Idulfitri merupakan momentum kembali kepada kesucian, layaknya manusia yang baru dilahirkan tanpa dosa. “Setiap manusia pasti memiliki kesalahan, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Melalui Idulfitri dan Syawalan, kita diberi kesempatan untuk kembali bersih,” tambah Mantan Menkopolhukam ini.


Kegiatan Syawalan ini diharapkan dapat memperkuat nilai kebersamaan, mempererat hubungan sosial, serta menumbuhkan budaya saling memaafkan di lingkungan Universitas Widya Mataram.


Bhenu

Iklan

iklan