Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Kementan Diminta Dukung Lomba Tanam Jagung & Ubi, Cegah Krisis Pangan Akibat Perang Timur Tengah

Rabu, April 01, 2026, 23:36 WIB Last Updated 2026-04-01T16:36:36Z


Bintuni, Kompasone.com – Gagasan lomba tanam komoditas pangan lokal seperti ubi jalar, singkong, keladi, dan jagung mulai disorot sebagai solusi konkret memperkuat ketahanan pangan daerah, khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat Daya. Ide ini muncul di tengah ketegangan geopolitik global yang mengancam stabilitas pasokan pangan dunia.


Mengusung semangat "Sediakan Payung Sebelum Hujan", program ini dinilai relevan di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kementerian Pertanian serta Kementerian Koperasi dan UKM diminta mengoptimalkan lahan kosong melalui kompetisi yang melibatkan masyarakat luas, sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional seperti Gerakan Nasional Pangan dan Energi (GNPEN).


Pemilik media online Mediaprorakyat Haiser Situmorang, menekankan bahwa lomba tanam bukan sekadar seremoni, melainkan strategi jangka panjang. 


"Daripada anggaran dihabiskan untuk kegiatan jangka pendek seperti olahraga atau hiburan, lebih baik diarahkan ke program yang berdampak berkelanjutan," katanya saat dihubungi di Bintuni, Selasa (31/3/2026).


Komoditas unggulan seperti singkong, ubi jalar, dan keladi dipilih karena tahan cuaca ekstrem, mudah dibudidayakan, serta kaya karbohidrat sebagai pengganti beras. Di Indonesia, produksi singkong saja mencapai 21 juta ton per tahun (data BPS 2025), tapi potensi lahan kosong masih besar untuk dikembangkan.


Rencana Pelaksanaan dan Keberlanjutan

Situmorang merinci konsep lomba yang matang:

  • Kategori peserta: Petani, pelajar, kelompok masyarakat, dan UMKM.
  • Dukungan pemerintah: Bibit gratis, pelatihan, dan pendampingan teknis.
  • Pasca-panen: Akses pasar melalui kemitraan UMKM dan program pangan daerah.


Ia juga mengusung revival kearifan lokal berupa sistem lumbung pangan tradisional, dikombinasikan pendekatan modern. "Jika direalisasikan serius, ini jadi gerakan kolektif untuk kemandirian masyarakat," tambahnya.


Konteks Geopolitik Global

Gagasan ini semakin mendesak akibat konflik Iran-Israel-AS yang mengganggu rantai pasok energi dunia. Media internasional melaporkan eskalasi di Timur Tengah berpotensi picu krisis minyak, dengan produksi global turun hingga 5% jika jalur perdagangan terganggu (sumber: Reuters, Maret 2026). "Ketegangan ini tak hanya soal energi, tapi juga pangan. Jika ketahanan kita kuat, Indonesia tak terlalu kesulitan meski minyak langka," ujar Situmorang.


"Anggaran harus tepat sasaran. Gunakan payung sebelum hujan. Kita tak tahu apa yang terjadi besok, semoga dunia tetap damai," tutupnya.


Program ini berpotensi jadi model nasional, mendorong swasembada pangan di tengah ketidakpastian global.



>Dedi

Iklan

iklan