Ada aroma busuk yang lebih menyengat daripada asap tembakau di sudut-sudut Kabupaten Sumenep. Di satu sisi, mata kita dipaksa menelan narasi megah melalui baliho-baliho bertajuk "Cukai untuk Indonesia Kuat dan Sehat".
Namun di sisi lain, di bawah bayang-bayang baliho tersebut, praktik mafia rokok ilegal justru berpesta pora seolah kebal hukum. Ini bukan sekadar pelanggaran niaga, ini adalah pembodohan publik yang terstruktur.
Slogan pemerintah merinci alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dengan sangat matematis, 40% Kesehatan, 10% Pengawasan, dan 50% Kesejahteraan. Namun, angka ini menjadi sampah visual ketika praktik jual beli "kertas keras" kemasan rokok tanpa pita cukai terjadi secara vulgar di depan hidung para pemangku kebijakan.
Bagaimana mungkin sebuah wilayah yang dibanjiri anggaran "pengawasan" justru menjadi sarang subur bagi para pemain rokok bodong? Rasa percaya diri para pelaku usaha ilegal ini adalah tamparan keras bagi aparat penegak hukum dan dinas terkait.
Skandal ini kian memuakkan saat isu "jaminan keamanan" mencuat dari lingkaran paguyuban rokok tak resmi. Kabarnya, ada setoran rutin kepada oknum ketua paguyuban dengan dalih sebagai uang tutup mulut bagi awak media.
Mari kita bedah kemungkinan pahit ini secara jujur. Nama media hanya dijadikan alat "gertak sambal" oleh oknum ketua paguyuban untuk memeras anggotanya demi memperkaya diri sendiri.
Adanya oknum yang mengaku jurnalis namun berperan layaknya "penagih upeti", menjual integritas demi recehan dari bisnis haram.
Jika benar media telah digadaikan seharga satu slop rokok bodong, maka demokrasi di Sumenep sedang berada di titik nadir.
Negara dirugikan miliaran rupiah, tatanan sosial dirusak oleh pungli, dan kepercayaan publik terhadap institusi pers sedang dipertaruhkan. Jika pengawasan hanya berhenti di desain grafis baliho tanpa ada tindakan nyata di gudang-gudang pengemasan, maka jargon "Indonesia Kuat" hanyalah utopia yang memuakkan.
"Kebenaran dan marwah profesi tidak bisa dibeli dengan recehan upeti. Jika hukum diam, maka pena kami yang akan berteriak."
Redaksi Kompasone.com tidak akan mundur sejengkal pun. Kami akan terus menguliti tabir gelap di balik "uang keamanan" ini hingga aktor intelektualnya terseret ke ruang terang.
Oleh: R. M Hendra
(Redaksi Kompasone.com)
