Sumenep, Kompasone.com - Panggung politik di ujung timur Pulau Madura sedang mempertontonkan drama kolosal yang membuat publik menahan napas. Lelang jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep bukan lagi sekadar prosedur birokrasi biasa, melainkan telah berubah menjadi "Perang Bintang" yang penuh misteri. Di balik tirai seleksi terbuka, aroma persaingan "berdarah" mulai tercium ke permukaan.
Drama ini bermula saat nakhoda Panitia Seleksi (Pansel), Syahwan Effendy, mendadak "lompat dari kapal". Mundurnya Syahwan dari kursi Pj Sekda sekaligus Ketua Pansel dengan dalih regulasi dianggap oleh praktisi hukum, Pathor Rahman (Paong), sebagai sebuah anomali.
"Ini bukan sekadar soal aturan, tapi soal navigasi kekuasaan. Kalau memang menabrak karang regulasi, kenapa sejak awal kemudi itu dipegang?" sindir Paong dengan tajam.
Guncangan paling hebat terjadi saat Arif Firmanto, Kepala Bappeda yang selama ini digadang-gadang sebagai "Pewaris Tunggal" tahta Sekda, tiba-tiba hilang dari radar. Bak disapu tsunami politik, Arif mundur tepat saat kaki sudah melangkah ke depan pintu uji kompetensi di Surabaya.
Publik bertanya-tanya: Kekuatan besar apa yang mampu membuat "anak emas" birokrasi ini memilih mundur teratur sebelum genderang perang benar-benar ditabuh habis-habisan?
Setelah Arif tumbang, nama Eri Susanto (Kepala Dinas PUTR) muncul sebagai skenario cadangan atau Plan B. Namun, nasib Eri ternyata setali tiga uang. Langkahnya terhenti di tikungan terakhir, tahapan penyusunan makalah dan wawancara.
Status TMS (Tidak Memenuhi Syarat) yang disematkan pada Eri menjadi misteri besar yang tak terpecahkan. Mengapa para elit birokrasi yang memiliki jam terbang tinggi ini mendadak "gagap" di meja penguji?
Menanggapi kegaduhan ini, Kepala BKPSDM Sumenep, Benny Irawan, mencoba mendinginkan suasana dengan bahasa diplomasi yang rapi. Menurutnya, semua riak yang terjadi hanyalah dinamika prosedur.
Soal Syahwan. Disebut murni masalah konsultasi dengan BKN terkait regulasi.
Soal Mundurnya Kandidat. Semua disertai surat resmi, meski alasan di baliknya tetap menjadi rahasia dapur masing-masing.
Soal Status TMS. "Ya, memang begitu hasil dari Pansel," ujar Benny singkat.
Bursa lelang Sekda Sumenep kali ini telah memakan "tumbal" para pejabat teras. Publik kini hanya bisa menonton dari pinggir lapangan, menebak-nebak siapa sosok yang akhirnya akan duduk di kursi panas tersebut setelah para raksasa satu per satu bertumbangan di tengah jalan.
Satu yang pasti. di Sumenep, Lihatlah analisis dampak posisi Sekda ini terhadap kontestasi Pilkada mendatang?
(R. M Hendra)
