Sumenep, Kompasone.com – Sektor pertanian di Desa Meddelan, Kecamatan Lenteng, Sumenep, mendadak Viral. Bukan karena panen yang melimpah, melainkan karena isu bantuan Handtraktor milik Kelompok Tani (Poktan) Surya Tani yang diduga raib bak ditelan bumi.
Bantuan yang seharusnya jadi "peluru" bagi petani untuk menggarap sawah, justru disinyalir hanya jadi pajangan misterius. Keresahan ini meledak setelah sejumlah sumber mulai buka suara. Kabarnya, sejak tahun 2021, unit bantuan tersebut tidak pernah terlihat batang hidungnya di sawah-sawah milik anggota. Seolah-olah, mesin pembajak tanah itu memiliki ilmu menghilang.
"Saya heran, katanya dapat bantuan Handtraktor, tapi kok tidak pernah dipakai? Bahkan wujud unitnya saja saya tidak pernah lihat. Jangan-jangan ini bantuan ghaib," celetuk salah satu warga dengan nada penuh kekecewaan, Senin (19/1).
Kini, isu tersebut telah menjalar luas dan menjadi konsumsi panas masyarakat setempat. Warga mulai bertanya-tanya: apakah bantuan pemerintah tersebut memang untuk menyejahterakan petani, atau hanya untuk menyejahterakan "garasi" oknum tertentu
Menanggapi kegaduhan yang kian meruncing, Ketua Poktan Surya Tani, Asmuni, akhirnya angkat bicara. Namun, klarifikasinya justru memicu tanda tanya baru. Ia mengklaim bahwa unit tersebut ada dan "aman" terparkir di rumahnya. Ia juga bersikeras bahwa anggota sudah merasakan manfaatnya.
"Mohon maaf bapak, dugaan itu salah. Unit Handtraktor itu ada di rumah bapak," kilah Asmuni saat dikonfirmasi.
Pernyataan sang ketua yang menyebut alat tersebut "nongkrong" di rumah pribadi langsung memantik reaksi pedas dari publik. Muncul kecurigaan, bagaimana mungkin alat yang seharusnya bergerak dinamis di lahan anggota justru lebih betah berdiam diri di rumah pribadi sang ketua?
Jika benar bantuan itu ada, lantas mengapa anggota Poktan merasa tidak pernah mencicipi kecanggihan alat tersebut sejak empat tahun lalu? Apakah mekanisme sewa dan pakainya dipersulit, atau memang unit tersebut sengaja "disembunyikan" agar tidak cepat rusak?
Masyarakat mengelus dada menahan pilu sambil menunggu keberanian Dinas Pertanian Kabupaten Sumenep untuk turun tangan. Jangan sampai jargon pemberdayaan petani hanya habis di atas kertas laporan, sementara di lapangan, petani kecil tetap membajak sawah dengan keringat sendiri karena bantuan alatnya sedang Dimodivikasi Stelgab ( SteL Ghaib )
(R. M Hendra)
