TAPUT, kompasone.com - Lumpur masih mengendap di sejumlah petak sawah di Desa Dolok Nauli Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara.
Di beberapa titik, batu dan kayu besar tersangkut di pematang yang dulu rapi. Sejak banjir dan longsor menerjang wilayah ini pada November 2025 lalu, lahan pertanian warga tak lagi sekadar tanah garapan kini menjadi saksi bisu perjuangan hidup para petani.
Bagi Oktober Hutapea, seorang petani di daerah itu sawah bukan hanya tempat menanam padi. Dari tanah itulah mereka menyekolahkan anak, membeli beras saat panen gagal, dan bertahan di musim sulit. Kini, sawah itu terdiam.
“Air datang cepat. Habis itu tinggal lumpur dan batu,” ujarnya pelan.
Senda dengan Lumbantobing petani Dolok Nauli lainnya, harapan tak pernah benar-benar hilang.
Mereka menunggu saat tanah kembali bisa ditanami, irigasi kembali mengalir, dan cangkul kembali bekerja.
“Kalau sawah ini pulih, kami bisa hidup lagi dari sini,” ujarnya
Di Dolok Nauli, sawah mungkin sedang terluka. Namun di balik lumpur dan batu, harapan para petani tetap bertahan.
Kondisi inilah yang mendorong pemkab Taput melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan setempat turun langsung meninjau lahan pertanian warga terdampak, Rabu (28/1).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan sekaligus membuka jalan pemulihan pascabencana.
Dipimpin langsung Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Taput, Sey Pasaribu, rombongan menyusuri lahan-lahan yang rusak bersama kepala desa dan para petani.
Di lapangan, kerusakan terlihat nyata sawah tertimbun, saluran irigasi terputus, dan kebun yang tak lagi bisa ditanami.
Sey Pasaribu menyebutkan, peninjauan ini merupakan tindak lanjut atas laporan Pemerintah Desa Dolok Nauli.
Pemerintah daerah, kata dia, akan mengusulkan lahan terdampak untuk masuk dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Ini bukan hanya soal lahan rusak, tapi soal sumber penghidupan masyarakat. Kita akan dorong penanganan melalui pemerintah pusat maupun provinsi,” ujarnya.
Kepala Desa Dolok Nauli, Jonas Aritonang, mencatat sedikitnya 85 kepala keluarga terdampak langsung bencana. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari pertanian padi, kemenyan, dan cabai. Ketika lahan rusak, dapur warga ikut terdampak.
“Warga hidup dari tanah ini. Kalau sawah tidak bisa digarap, ekonomi keluarga ikut terhenti,” kata Jonas.
Dari hasil peninjauan sementara, luas lahan pertanian yang terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 100 hektare. Angka itu bukan sekadar data, melainkan gambaran tentang luasnya kehidupan warga yang terdampak.
(Bernat L Gaol)
