Tangerang, kompasone.com — Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tan Malaka, yang berlokasi di Kampung Babakan, Kelurahan Binong, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, menandai perjalanan 22 tahun pengabdiannya dengan peresmian ruang kelas. Sabtu, 10 Januari 2026.
PKBM Tan Malaka mulai berkegiatan sejak 2003 dan memiliki bangunan sendiri sejak 2007. Lembaga pendidikan nonformal ini berdiri untuk menjawab kebutuhan warga yang tidak terakomodasi pendidikan formal, baik karena faktor usia, ekonomi, maupun kondisi sosial.
PKBM Tan Malaka telah terakreditasi B dengan Izin Operasional 423.8/098/Dispendik/2012 dan NPSN P.9908760. Melalui sistem pendidikan nonformal yang fleksibel, PKBM ini menyelenggarakan program kesetaraan yang ijazahnya diakui negara dan setara dengan pendidikan formal, sehingga lulusannya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun memasuki dunia kerja.
Saat ini PKBM Tan Malaka menempati lahan seluas 500 meter persegi dengan konsep ramah lingkungan, didukung 12 tenaga pengajar, staf administrasi, dan tenaga kependidikan. Sejak 2007 hingga kini, lebih dari 2.000 alumni telah dibelajarkan dan diluluskan.
Gedung Baru Hasil Hibah Kemendikdasmen
Pada tahun 2025, PKBM Tan Malaka meresmikan gedung baru hasil revitalisasi ruang kelas melalui hibah swakelola Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Gedung tersebut terdiri dari dua ruang kelas dan satu ruang kantor, serta direncanakan dikembangkan menjadi dua lantai dengan kapasitas empat ruang kelas. Proses pembangunan berlangsung selama dua bulan.
Peresmian gedung ditandai dengan komitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas, sebagaimana tertuang dalam spanduk peresmian revitalisasi ruang kelas PKBM Tan Malaka.
Pendiri dan Ketua PKBM Tan Malaka, Ferry Wardhana, yang akrab disapa Pei, menegaskan bahwa pendidikan di PKBM Tan Malaka tidak hanya berorientasi pada ijazah.
“Sejak awal, PKBM Tan Malaka kami dirikan sebagai ruang pemulihan dan pemberdayaan. Banyak warga belajar datang dengan keterbatasan, bahkan luka sosial. Pendidikan harus hadir untuk memanusiakan,” ujar Pei.
Menyentuh Warga dan Anak Yatim dan Dhuafa
Kehadiran PKBM Tan Malaka juga dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar, terutama dalam memberikan akses pendidikan bagi anak yatim dan dhuafa.
Syamsudin Buaya, Ketua Umum Yayasan Himpul Daarus Sa’adah, menyebut PKBM Tan Malaka telah menjadi mitra penting dalam pendampingan sosial dan pendidikan.
“Di lingkungan kami terdapat sekitar 70 anak yatim. Lima anak merupakan anak asuh Rumah Yatim Himpul Daarus Sa’adah, 14 anak tinggal di rumah yatim, dan sekitar enam anak yatim binaan kami saat ini bisa sekolah di PKBM Tan Malaka secara gratis. Ini sangat membantu masyarakat,” ujarnya.
Apresiasi Akademisi
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi. Dr. Agung Slamet Riyadi, ST., MT, akademisi Universitas Gunadarma, menilai PKBM Tan Malaka sebagai mitra strategis dalam transformasi pengetahuan dan keterampilan masyarakat.
“PKBM Tan Malaka berperan penting sebagai mitra Universitas Gunadarma dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Lembaga ini menjadi jembatan transfer pengetahuan dan keterampilan yang langsung menyentuh kebutuhan warga,” kata Dr. Agung.
Memasuki usia ke-22 tahun, PKBM Tan Malaka terus memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan nonformal berbasis komunitas, dengan komitmen memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran bagi seluruh lapisan masyarakat.
Gus Mano

