TAPUT, kompasone.com - Desa Sibalanga, yang biasanya tenang di kaki perbukitan Sibalanga Jae, Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara berubah menjadi tempat penuh pilu.
Aroma tanah basah dan kayu patah bercampur dengan suara tangis yang pecah dari sudut-sudut desa tanda bahwa duka besar sedang membungkus hidup banyak keluarga.
Longsor yang terjadi pada Selasa (26/11) tak hanya menggulung rumah-rumah, tapi juga menelan puluhan korban jiwa dan menyapu harapan.
Sejumlah keluarga kini kehilangan arah, berdiri tak berdaya di depan lahan kosong tempat rumah mereka pernah berdiri.
Di tengah kepedihan itu, Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Parlindungan Lumbantoruan datang memimpin pencarian pada Jumat (28/11).
Wajahnya tegang, langkahnya cepat, namun matanya berkaca kaca setiap kali menoleh ke arah keluarga yang menunggu kabar tentang orang-orang terkasih.
“Kita harus menemukan mereka semuanya (korban-red)” katanya lirih namun tegas.
Pantauan kompasone.com sejak pagi Jumat (28/11) petugas BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, relawan, dan warga bekerja tanpa mengeluh lelah.
Ada yang menggali dengan cangkul, ada yang mengangkat balok kayu dengan tangan gemetar, ada pula yang memanggil-manggil nama keluarga di sela tumpukan tanah.
Setiap benda kecil yang muncul dari balik gundukan tanah antara lain kain, sandal mengguncang emosi warga yang berdiri menonton.
Duka Berlapis Satu Keluarga Korban, Lalu Bertambah Lagi
Kamis (27/11) membawa kenyataan paling pahit lima anggota keluarga Sanpratno Sitompul (37) ditemukan meninggal.
Jenazah-jenazah kecil itu dibaringkan berdampingan sebelum dimakamkan pada Jumat pagi. Tangis keluarga pecah saat nama-nama mereka dipanggil satu per satu.
Namun hari ini, duka itu belum selesai. Tim kembali menemukan dua korban lain Jones Sitompul masih satu garis keluarga yang direnggut bencana dan Mama Linda boru Simamora.
Waktu Terus Berjalan, Harapan Tetap Dipegang
Disisi lain alat berat tak berhenti bekerja, memecah sunyi dengan suara mesin yang keras. Di antara suara itu, doa-doa lirih terus terdengar dari warga yang menunggu.
Ada yang memejamkan mata, ada yang menatap kosong, ada yang berteriak tiap kali petugas berhenti menggali.
Posko darurat kini menjadi tempat bernaung para keluarga yang kehilangan rumah. Mereka menggantungkan harapan pada tim penyelamat yang masih berjuang di medan berat berlomba dengan waktu.
Pemerintah daerah mengimbau warga tetap waspada, sebab hujan diperkirakan masih turun dalam beberapa hari ke depan. Desa Sibalanga kini bukan hanya lokasi bencana melainkan tempat di mana ratusan orang menunggu, berdoa, dan berjuang untuk tidak menyerah.
(Bernat L Gaol)
