Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Harga Ayam dan Bawang Hingga Cabai Melonjak Naik Kembali di Pasar Kayuagung, Pedagang Sebut Lebih Banyak Diserap MBG

Kamis, Juli 16, 2026, 13:16 WIB Last Updated 2026-07-16T06:17:14Z

 


Kayuagung Oki, kompasone.com - Baru empat hari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bergulir, harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mengalami kenaikan.


Pedagang menyebut lonjakan harga dipengaruhi meningkatnya permintaan bahan pangan, terutama untuk memasok kebutuhan program MBG


Salah seorang pedagang sayur Emi, mengatakan hampir seluruh komoditas mengalami kenaikan dibandingkan pekan sebelumnya.


"Bawang merah sebelumnya dijual Rp45.000, hari ini naik menjadi Rp48.000 per kilogram. Lalu bawang putih dari Rp35.000 menjadi Rp40.000," katanya saat ditemui Media ini ( kompasone)

di Pasar Tradisional Kayuagung, Kamis (16/7/2026).


Menurutnya, kenaikan paling terasa terjadi pada komoditas cabai.


"Cabai rawit hijau dari yang semula Rp50.000 kini tembus Rp70.000. Cabai rawit merah naik dari Rp35.000 menjadi Rp50.000, sedangkan cabai merah keriting menjadi Rp30.000 per kilogram," ujarnya.


Selain cabai, harga tomat naik dari Rp15.000 menjadi Rp20.000 per kilogram. Kentang kini dijual Rp18.000 per kilogram, sedangkan wortel mencapai Rp16.000 per kilogram.


Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam dan telur.


Di tempat terpisah 

Pedagang ayam potong, Wati, mengatakan harga ayam potong kini mencapai Rp38.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp31.000.


Sementara harga telur ayam naik dari Rp24.000 menjadi Rp26.000 per kilogram.


Menurut Wati, meningkatnya permintaan dalam jumlah besar membuat pasokan ayam di pasar berkurang.


Ia menyebut sebagian besar stok dari pemasok kini diserap untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis.


"Sejak program makan bergizi gratis mulai, pemilik SPPG membeli ayam dalam jumlah besar. Pedagang eceran jadi berebut stok dari agen. Barang di pasar jadi lebih sedikit sehingga harga ikut naik," ujarnya.


Meski demikian, penyebab pasti kenaikan harga komoditas pangan memerlukan data dari instansi terkait yang memantau distribusi, pasokan, dan mekanisme pembentukan harga di pasar.


Rahmat.

Iklan

iklan