Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Pesan Camat Hamka Diabaikan, Kades Saseel Dinilai Nir-Etika

Rabu, Maret 18, 2026, 20:28 WIB Last Updated 2026-03-18T13:28:54Z

 


Sumenep. Kompasone.com - Keharmonisan tata kelola pemerintahan di wilayah Kecamatan Sapeken tengah menjadi sorotan tajam. Sebuah insiden komunikasi yang mencoreng marwah birokrasi mencuat ke publik, melibatkan Kepala Desa (Kades) Saseel yang diduga kuat secara sengaja mengabaikan instruksi dan komunikasi dari atasannya, Camat Sapeken, Bapak Hamka.


Peristiwa ini bermula saat Camat Hamka mencoba melakukan fungsi pengawasan dengan melayangkan pesan melalui aplikasi WhatsApp kepada Kades Saseel. Pesan tersebut bertujuan untuk meminta klarifikasi atas serangkaian pertanyaan krusial yang diajukan oleh kelompok aktivis dan awak media. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban profesional, pesan dari sang pemangku kecamatan justru dibiarkan tak berbalas, sebuah tindakan yang dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap hierarki pemerintahan.


Kepada awak media, Camat Hamka yang dikenal sebagai sosok berwibawa dan bijaksana, menyampaikan kekecewaannya secara tersirat namun tegas.


"Saya sudah mengirimkan pesan melalui WhatsApp, namun hingga saat ini belum ada jawaban atau respons dari yang bersangkutan," ungkap Pak Hamka singkat.


Sikap diamnya Kades Saseel ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Kabupaten Sumenep, Camat memiliki kewenangan legal untuk membina dan mengawasi jalannya pemerintahan desa. Pengabaian terhadap pesan atasan bukan sekadar masalah komunikasi pribadi, melainkan sinyal buruk bagi kepatuhan terhadap mekanisme administrasi negara.


Ketajaman kritik juga datang dari aktivis lintas kepulauan yang dikenal vokal, Johari, atau yang akrab disapa Bang Jo. Ia menilai tindakan Kades Saseel telah melewati batas kewajaran dalam tata krama kedinasan.


Bang Jo menegaskan bahwa jika setingkat Camat saja diabaikan, maka patut dipertanyakan bagaimana pelayanan desa tersebut terhadap masyarakat kecil.


Pelanggaran Hierarki. Secara administratif, desa berada di bawah naungan kecamatan. Sikap "membangkang" ini dinilai sebagai preseden buruk bagi demokrasi di kepulauan.


Aktivis menuntut adanya evaluasi totat terhadap kinerja Kades Saseel yang dianggap tidak memahami etika birokrasi.


Ini adalah persoalan serius. Jika pesan dari seorang Camat saja tidak dibalas, ini menunjukkan Kades tersebut kurang memahami etika dan aturan main dalam pemerintahan. Jangan sampai jabatan membuat seseorang merasa di atas hukum dan aturan," tegas Bang Jo dengan nada pedas.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Pemerintah Desa Saseel terkait alasan dibalik sikap apatis tersebut. Masyarakat kini menunggu langkah tegas dari Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk mendisiplinkan oknum pejabat desa yang dinilai merusak marwah kepemimpinan daerah.


(R. M Hendra)

Iklan

iklan