Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Labirin Kekuasaan | Menakar "Restu Langit" di Kursi Maut Sekda Sumenep

Kamis, Februari 19, 2026, 23:16 WIB Last Updated 2026-02-19T16:16:16Z

 


Sumenep, Kompasone.com – Panggung lelang Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep kini bukan lagi sekadar formalitas administratif yang kaku. Pasca pengumuman tiga besar oleh Pansel, kompetisi ini bertransformasi menjadi permainan catur tingkat tinggi di mana logika birokrasi mulai bergeser ke arah dialektika kekuasaan yang jauh lebih subtil.


Tiga nama telah mengkristal: Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid (Inung), dan R. Abd. Rahman Riadi. Namun, jangan terkecoh oleh urutan skor. Di titik ini, angka-angka asesmen hanyalah "mahar" untuk masuk ke gerbang istana. Keputusan final kini bertumpu pada Hak Prerogatif Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo sebuah "hak veto" yang akan menguji sejauh mana insting sang Bupati dalam memilih guardian bagi roda pemerintahannya.


Pakar Komunikasi Politik, Nanik Farida, membedah konstelasi ini dengan presisi yang tajam. Menurutnya, fase "lelang" telah usai, dan kini kita memasuki fase "Lobi-Lobi Transendental".


Agus Dwi Saputra: Sang Teknokrat dengan Portofolio Elit Agus muncul dengan aura senioritas yang kuat. Dukungan laten dari jejaring alumni (IPDN) dan irisan relasi dengan pimpinan Banggar DPR RI menjadikannya figur yang "berat" secara politis.


Namun, dalam politik, kompetensi tanpa chemistry seringkali berakhir menjadi relasi yang mekanis. Pertanyaannya: Apakah frekuensi Agus sudah selaras dengan denyut nadi politik sang Bupati?


Chainur Rasyid (Inung) Sang Kuda Hitam yang "Menyalip di Taanjakan" Inung adalah personifikasi dari political networking. Namanya melejit, bukan sekadar karena kapasitas, tapi karena ia berdiri di titik episentrum kekuatan partai (PDIP).


Dengan sokongan struktural keluarga di legislatif dan kedekatan emosional dengan pucuk pimpinan partai di Jatim, Inung adalah kandidat yang paling "berisik" secara politis. Ia adalah antitesis dari sekadar birokrat; ia adalah loyalis yang memahami bahasa kekuasaan.


R. Abd. Rahman Riadi diam diam Senyap namun Mematikan Jika Agus dan Inung sibuk dalam "adu mekanik" di permukaan, Rahman adalah variabel X yang paling berbahaya.


Memiliki relasi kekeluargaan dengan otoritas di tingkat provinsi (BKD Jatim), Rahman adalah safety player yang bisa muncul sebagai jalan tengah (compromise candidate) jika faksi Agus dan Inung menemui jalan buntu.


Farida secara lugas menyebutkan bahwa "restu Bupati" tidak jatuh dari ruang hampa. Ada percampuran antara loyalitas absolut, jejaring relasi, hingga variabel the power of money yang secara sosiologis sulit dinegasikan dalam ekosistem politik praktis.


"Ini bukan lagi soal siapa yang paling pintar menjawab soal ujian, tapi siapa yang paling mampu menjamin stabilitas kursi Bupati dan siapa yang punya 'napas' paling panjang dalam lobi-lobi di balik pintu tertutup," tegas Farida.


Pertarungan ini adalah cermin dari bagaimana Sumenep dikelola: perpaduan antara birokrasi modern dan patronase politik tradisional. Siapapun yang terpilih, ia harus menjadi "tangan kanan" yang tidak hanya mahir mengeksekusi anggaran, tapi juga piawai menjaga irama politik sang Bupati.


Akankah Inung benar-benar menjadi "kuda hitam" yang mempecundangi prediksi banyak orang? Atau justru Rahman yang akan memetik buah dari pertikaian dua raksasa lainnya? Pantau terus pergerakan bidak-bidak kekuasaan ini hanya di Kompasone.com.


(R. M Hendra)

Iklan

iklan