Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Naked Flying: Ketika Terbang Tanpa Barang Bawaan

Rabu, Januari 07, 2026, 11:02 WIB Last Updated 2026-01-07T04:02:57Z

 

Bhenu Artha


Bayangkan Anda melangkah masuk ke bandara hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh, ponsel di saku, dan tangan yang benar-benar hampa. Tidak ada koper yang beratnya harus ditimbang dengan cemas, tidak ada tas punggung yang membuat bahu pegal, dan tidak ada drama menyeret roda koper di atas trotoar yang tidak rata. Inilah esensi dari Naked Flying, sebuah tren perjalanan yang mengajarkan kita untuk terbang terbebas dari segala beban materi.


Ada beban psikologis yang tak terlihat setiap kali kita mengepak barang. Kita sering membawa "ketakutan" ke dalam koper: "Bagaimana kalau hujan?", atau "Bagaimana kalau saya butuh baju untuk acara ini?". Kita memenuhi tas kita dengan skenario-skenario "bagaimana kalau" yang jarang sekali terjadi.


Saat seseorang memutuskan untuk melakukan Naked Flying, ia sebenarnya sedang melakukan praktik mindfulness. Ia melepaskan beban masa depan (kekhawatiran akan kebutuhan yang belum tentu ada) dan beban masa lalu (barang-barang yang selalu ia bawa ke mana-mana). Dengan tangan kosong, perhatian kita tidak lagi tersita untuk menjaga barang bawaan, melainkan beralih sepenuhnya pada orang-orang di sekitar dan pemandangan di depan mata. Ada rasa ringan yang luar biasa saat kita bisa berjalan tegak tanpa beban di punggung.


Terbang tanpa membawa apa pun adalah bentuk kepercayaan tertinggi kepada sesama manusia dan kepada tempat yang kita tuju. Kita berangkat dengan keyakinan bahwa dunia akan menyediakan apa yang kita butuhkan.

Ini mengubah dinamika antara wisatawan dan penduduk lokal.


Biasanya, wisatawan datang dengan "benteng" berupa perlengkapan lengkap dari rumah. Namun, dengan Naked Flying, Anda menjadi lebih rendah hati. Anda mungkin akan bertanya pada pemilik kedai kecil di mana bisa mendapatkan kemeja lokal, atau berdiskusi dengan sesama pelancong tentang sabun alami khas daerah tersebut. Kebutuhan fisik memaksa kita untuk berkomunikasi, dan dari komunikasi itulah hubungan antarmanusia tercipta.


Kita tidak bisa bicara tentang pariwisata tanpa bicara tentang bumi. Setiap gram yang kita bawa ke atas pesawat membutuhkan bahan bakar untuk diterbangkan. Dengan memilih untuk tidak membawa bagasi, kita secara sadar sedang mengurangi jejak karbonnya.


Namun, lebih dari sekadar angka emisi, ini adalah tentang kesederhanaan. Naked Flying menantang budaya konsumsi kita. Ia mengajarkan bahwa kita bisa hidup, bahkan bersenang-senang, dengan sangat sedikit hal. Ini adalah langkah kecil namun sangat manusiawi untuk menunjukkan kepedulian pada lingkungan: dengan cara tidak mengambil ruang atau energi lebih dari yang benar-benar kita butuhkan.


Tentu saja, gaya perjalanan ini tidak mudah bagi semua orang. Bagi seorang ibu yang membawa balita, seseorang dengan kebutuhan medis, atau mereka yang anggaran perjalanannya sangat terbatas, membawa barang dari rumah adalah sebuah keharusan.


Oleh karena itu, Naked Flying tidak seharusnya menjadi standar baru, melainkan sebuah inspirasi. Intinya bukan pada "nol barang", tapi pada "minimalisasi beban". Ini adalah ajakan bagi kita semua untuk mengevaluasi kembali: Berapa banyak dari barang yang kita bawa benar-benar menambah nilai pada perjalanan kita, dan berapa banyak yang justru menghalangi kita untuk merasa bebas?


Penulis:

Bhenu Artha

Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram

Iklan

iklan