Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Dividen: Jangkar Stabilitas dan Proteksionisme

Kamis, Januari 15, 2026, 14:05 WIB Last Updated 2026-01-15T07:05:44Z

 

Bhenu Artha


Kalau kita perhatikan dinamika pasar saat ini, dividen sebenarnya adalah "bahasa cinta" paling jujur dari sebuah perusahaan kepada investornya.


Di dunia investasi, kita sering sekali mendengar janji tentang "pertumbuhan masa depan" atau "teknologi revolusioner." Tapi di tahun 2026, janji saja tidak cukup untuk membayar tagihan. Dividen adalah satu-satunya hal yang nyata.


Ketika sebuah perusahaan mengirimkan uang tunai ke rekening Anda, itu adalah pengakuan bahwa: "Kami benar-benar untung, dan kami punya uang cash di bank, bukan sekadar angka di atas kertas." Di masa ketidakpastian global seperti sekarang, dividen adalah bentuk rasa aman yang tidak bisa digantikan oleh grafik pertumbuhan yang fluktuatif.


Ada fenomena yang sering disebut sebagai "Lampu Kuning" Dividen. Bayangkan ada perusahaan tua yang tiba-tiba memberikan dividen sangat besar saat bisnisnya sebenarnya sedang lesu. Ini sering kali bukan tanda kemakmuran, melainkan upaya terakhir agar investor tidak kabur.

Sebagai investor yang jeli, kita harus bertanya: "Kalau uangnya dibagikan semua sekarang, lalu bagaimana mereka akan bertahan 5 tahun lagi?" Kadang, perusahaan yang dividennya "sedang-sedang saja" tapi konsisten naik setiap tahun jauh lebih bisa diandalkan daripada yang memberi ledakan bonus sekali tapi setelah itu bisnisnya layu.


Sekarang, kita melihat banyak orang mulai peduli dari mana uang dividen itu berasal. Ada rasa bangga tersendiri saat menerima dividen dari perusahaan yang memperlakukan karyawannya dengan baik atau peduli pada lingkungan.

Dividen di tahun 2026 sudah bergeser menjadi "Pendapatan yang Beretika." Orang tidak lagi hanya ingin kaya, tapi ingin merasa tenang karena uang yang mereka terima tidak berasal dari bisnis yang merusak masa depan anak cucu mereka.


Jangan melihat dividen hanya sebagai angka persentase. Lihatlah itu sebagai karakter perusahaan. Perusahaan yang pelit dividen saat untung besar mungkin tidak menghargai Anda. Perusahaan yang terlalu royal sampai menguras tabungannya mungkin sedang panik. Perusahaan terbaik adalah mereka yang tahu cara berbagi hasil, tapi tetap menyisakan cukup modal untuk terus berinovasi.


Bagaimana memilihnya, apakah lebih suka menerima "uang jajan" rutin, atau lebih memilih uangnya diputar kembali oleh perusahaan agar harga sahamnya meroket di masa depan?


Penulis: 

Bhenu Artha

Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram

Iklan

iklan