Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Sepotong Cahaya Syurga yang Jatuh ke Pulau Kangean Adalah Permata Tersembunyi di Pelukan Sumenep

Kamis, Januari 01, 2026, 21:22 WIB Last Updated 2026-01-01T14:23:21Z

Sumenep, Kompasone.com - Jika alam adalah sebuah kitab suci yang terbuka, maka Kabupaten Sumenep adalah bab paling puitis yang pernah dituliskan oleh Sang Pencipta. Di ujung timur Pulau Madura, jemari Tuhan seakan menari, menaburkan 125 kepingan surga berupa pulau-pulau kecil yang terapung tenang di atas zamrud cair Laut Jawa.


Sumenep bukan sekadar wilayah; ia adalah galeri lukisan Sang Maha Karya. Dari sekian banyak noktah keindahan itu, muncul satu nama yang kini menjadi buah bibir para pemuja senja. Ia adalah Pulau Mamburit.


Pulau Mamburit bukanlah daratan yang luas, melainkan sebuah "janji setia" alam yang hanya berukuran lebar 500 meter dan panjang satu kilometer. Terletak di dekapan Kecamatan Arjasa, Kepulauan Kangean. Kab. Sumenep. pulau ini bagaikan butiran mutiara yang tercecer dari kalung samudra. Hanya berjarak 1,9 kilometer dari Pulau Kangean, eksotisme Mamburit sudah melambai dari kejauhan, menggoda mata siapa pun yang memandang untuk segera menepi dan bersujud syukur atas keindahan yang tak masuk akal ini.


Di atas tanah mungil ini, Tuhan merajut keberagaman layaknya pelangi. Sekitar 150 kepala keluarga menghuni Mamburit, mereka adalah perpaduan darah Madura, Jawa, Bugis, hingga Kalimantan. Mereka hidup dalam ritme pasang surut air laut, menggantungkan nafas pada kemurahan hati samudra yang tak pernah ingkar janji, Visual yang disuguhkan Mamburit adalah sihir yang nyata


Air lautnya begitu bening, seolah kaca transparan yang menyingkap rahasia terumbu karang di bawahnya yang tampak bagaikan kristal cair . Pasir pantainya seputih salju, lembut membelai kaki para musafir yang datang mencari ketenangan. Taman Bawah Laut: yang dihiasi oleh terumbu karang yang menari di sela ombak menjadi bukti bahwa seni Tuhan tidak hanya ada di langit, tapi juga bersembunyi di kedalaman.


Akses menuju "potongan surga" ini kian dimudahkan. Hanya butuh waktu 20 menit membelah ombak dari Pelabuhan Batu Guluk menggunakan perahu, atau perjalanan spiritual menggunakan Kapal Cepat/Ferry dari Pelabuhan Kalianget.


Berdasarkan pantauan di lapangan, arus manusia yang haus akan keindahan tampak kian membludak setiap harinya. Mereka datang bukan sekadar untuk berwisata, melainkan untuk menyaksikan langsung bagaimana Sang Pencipta menitipkan keindahannya pada sebuah pulau kecil yang sunyi namun memukau.


Mamburit bukan sekadar destinasi; ia adalah undangan bagi jiwa-jiwa yang ingin kembali ke pelukan alam dan mengakui bahwa di balik keindahan ini, ada tangan Tuhan yang bekerja dengan sangat sempurna.


(Fathur R)

Iklan

iklan