TAPUT, kompasone.com – Semilir angin dari Bukit Siatas Barita membawa lantunan pujian dan harmoni koor dari berbagai penjuru Tapanuli Raya Senin (10/11).
Suara merdu dari 25 kontingen Pesparawi Mini Se-Tapanuli Raya bergema di pelataran Salib Kasih, tempat yang menjadi simbol iman dan kebangkitan spiritual masyarakat Batak.
Di bawah tema “Harmoni Iman, Budaya, dan Pariwisata”, kegiatan ini menjadi pertemuan antara spiritualitas, kebudayaan, dan semangat pembangunan daerah.
Tak sekadar lomba paduan suara, Pesparawi kali ini menjadi ruang bagi umat untuk memuji Tuhan sekaligus memperkuat identitas Batak yang religius dan berbudaya.
Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsensius Jemadu, menegaskan dalam sambutannya bahwa kegiatan ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar kompetisi.
“Tujuan utama Pesparawi adalah memuji dan memuliakan nama Tuhan di destinasi wisata rohani Salib Kasih. Iven ini juga berpotensi besar menarik wisatawan dan memberi dampak sosial positif bagi masyarakat,” ujarnya penuh semangat.
Ia berharap Pesparawi ini dapat menjadi agenda tahunan, bahkan dikembangkan hingga tingkat nasional.
Sementara itu, Ir. Lamhot Sinaga, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI yang menjadi penggagas kegiatan, tampak haru saat menyampaikan sambutannya.
Ia mengenang peran besar misionaris Nomensen yang menanamkan benih iman di Tanah Batak.
“Saya tidak akan berdiri di tempat ini dan menjadi wakil rakyat jika Nomensen tidak datang ke tanah ini. Kerinduan saya adalah bagaimana agar kita mendapat pendidikan yang baik dan mampu mengembangkan wisata rohani Salib Kasih,” ujarnya.
Lamhot juga memaparkan visinya menjadikan Salib Kasih sebagai titik nol kekristenan di Tanah Batak sebuah pusat wisata rohani nasional yang mempersatukan iman dan budaya.
Tahun depan, katanya, Pesparawi Salib Kasih akan digelar secara permanen dan berskala nasional.
Selain itu, ia berencana memperjuangkan pembangunan gedung berkapasitas lima ribu orang di kawasan tersebut untuk mendukung kegiatan rohani dan kebudayaan.
Dukungan Lamhot terhadap pengembangan wisata dan ekonomi masyarakat juga diwujudkan dalam berbagai program bantuan pembangunan kawasan Salib Kasih Rp500 juta, pengembangan Huta Ginjang Rp500 juta, pengadaan mesin pemanen padi Rp600 juta yang dananya bersumber dari CSR BRI.
Suasana religius dan penuh sukacita di pelataran Salib Kasih menjadi saksi bagaimana iman, budaya, dan pariwisata dapat berpadu dalam harmoni.
Pesparawi Mini Se-Tapanuli Raya tak hanya meninggalkan gema pujian, tetapi juga menyalakan harapan baru bahwa dari bukit bersejarah ini, cahaya rohani dan semangat budaya Batak akan terus menyala untuk Indonesia.
(Bernat L Gaol)
