TAPUT, kompasone.com - Ketika posko tanggap darurat di Tapanuli Utara masih diselimuti hiruk-pikuk relawan dan laporan masuk tentang warga yang membutuhkan bantuan, Sabtu (29/11) siang tiba-tiba rombongan kecil datang dengan wajah letih namun penuh tekad.
Mereka adalah Komunitas Renang Tamaro Tarutung, yang datang membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar paket logistik: mereka membawa harapan.
Sekitar 40 anggota komunitas sebagian besar pensiunan ASN dan pedagang mengaku tidak bisa tinggal diam melihat kondisi kampung halaman mereka yang porak-poranda diterjang banjir dan longsor dalam beberapa hari terakhir.
Tanpa komando formal, tanpa agenda resmi, mereka bergerak spontan mengumpulkan apa pun yang bisa meringankan penderitaan para korban.
Bantuan yang mereka bawa sederhana namun sangat berarti karung-karung beras, tumpukan pakaian layak pakai, dan mi instan yang menjadi kebutuhan paling mendesak bagi warga yang kini tinggal di pengungsian.
“Kami hanya ingin warga yang terdampak tahu bahwa mereka tidak sendirian,” ujar BP Siahaan, salah satu anggota komunitas yang ikut menyerahkan bantuan bersama Nelson Simajuntak, Riris Hutabarat, Sofia Silalahi, dan Sondang Pardede.
Petugas posko Binhot Aritonang menerima kedatangan mereka dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Setiap bantuan yang tiba, betapapun kecilnya, menjadi napas baru di tengah kelelahan panjang para relawan yang bekerja siang dan malam.
Pihak posko memastikan seluruh bantuan akan segera dikirim ke desa-desa yang aksesnya baru terbuka dan masih kesulitan logistik. Bagi warga Taput yang masih berjibaku melewati hari-hari sulit, uluran tangan seperti ini menjadi pengingat bahwa solidaritas sesama anak daerah tetap hidup bahkan di tengah bencana yang paling kelam.
(Bernat L Gaol)
