TAPUT, kompasone.com - Tiga anggota DPR-RI dari Daerah Pemilihan Tapanuli Utara, Toba, Humbang Hasundutan dan Samosir turun langsung ke wilayah terdampak banjir dan longsor di Kecamatan Adian Koting, Selasa (2/12).
Meski berasal dari tiga partai berbeda, mereka hadir di lokasi bencana pada waktu yang hampir bersamaan untuk melihat kondisi warga serta menyalurkan bantuan sembako ke titik-titik pengungsian.
Ketiga legislator tersebut adalah Sabam Sinaga (Partai Demokrat), Rapidin Simbolon (PDI Perjuangan), dan Sabam Rajagukguk (Partai Gerindra).
Mereka menyisir lokasi terdampak yang hingga kini masih mengalami keterbatasan akses, listrik, dan komunikasi akibat bencana hidrometeorologi yang menghantam wilayah Taput sejak sepekan terakhir.
Menyambangi Tiga Titik Pengungsian Berbeda
Sabam Sinaga memulai kunjungan di Desa Lobu Pining, salah satu desa yang mengalami kerusakan paling berat.
Di lokasi itu, selain menyalurkan paket sembako, Dia berdialog dengan para korban yang rumahnya tertimbun material longsor.
Sabam menyampaikan simpati mendalam dan menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. “Ini duka kita bersama. Pemerintah pusat harus memastikan penanganan cepat, terutama pembukaan akses dan pemulihan bantuan logistik,” ujarnya kepada warga.
Sementara itu, Rapidin Simbolon mendatangi posko pengungsian Sibalanga, tempat ratusan warga bertahan dengan fasilitas terbatas.
Dia meninjau tenda-tenda sementara, dapur umum, serta kebutuhan prioritas seperti obat-obatan dan pakaian anak-anak.
Mantan bupati Samosir tersebut menekankan perlunya koordinasi menyeluruh antara pemerintah daerah, BNPB, dan TNI/Polri.
“Yang paling krusial saat ini adalah memastikan warga tidak kekurangan pangan dan layanan kesehatan. Tidak boleh ada keterlambatan,” kata Rapidin.
Di titik berbeda, Sabam Rajagukguk menemui para pengungsi di Desa Pagaran Lambung I, salah satu desa yang hingga hari ini masih kerap terisolasi karena akses jalan yang rusak parah.
Dia menyerahkan paket bantuan dan meninjau jalur akses yang tertutup tanah dan material bebatuan.
“Kami akan membawa persoalan ini ke pusat. Penanganan permanen pascabencana harus segera disiapkan, termasuk mitigasi agar peristiwa seperti ini tidak terulang,” ujarnya.
Warga Sampaikan Keluhan Akses Terputus, Bantuan Belum Merata
Kehadiran tiga anggota DPR-RI ini dimanfaatkan warga untuk menyampaikan langsung sejumlah keluhan. Seorang ibu pengungsi di Sibalanga mengaku kebutuhan dasar masih belum mencukupi.
“Kami tidur berdempetan, anak-anak kedinginan. Bantuan datang, tapi kadang tidak sampai ke semua tenda,” ucapnya.
Di Pagaran Lambung I, warga mengungkapkan tantangan terbesar adalah akses yang terputus.
“Kami butuh jalan dibuka cepat. Kalau hujan turun lagi, kami takut longsor susulan,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Para legislator mengaku akan mengawal persoalan tersebut dan memastikan laporan lengkap disampaikan kepada pemerintah pusat agar percepatan penanganan dan pemulihan dapat dilakukan.
Pemulihan Diperkirakan Memakan Waktu Lama
Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Taput, puluhan warga masih dinyatakan meninggal dan hilang, sementara sejumlah desa masih terisolasi. Infrastruktur jalan, jembatan, irigasi, hingga jaringan listrik dan telekomunikasi mengalami kerusakan cukup berat.
BNPB, TNI, Polri, serta Pemkab Taput bersama sejumlah relawan kini terus membuka akses dan menyalurkan logistik, namun kondisi di lapangan masih dinamis akibat cuaca yang tidak menentu.
Kunjungan tiga anggota DPR-RI tersebut diharapkan dapat memperkuat advokasi anggaran dan kebijakan di tingkat pusat terkait percepatan tanggap darurat dan pemulihan jangka panjang di wilayah Taput.
(Bernat L Gaol)
