Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Bukan Kurma dan Air Zamzam, Ini Oleh-oleh Jemaah Haji Pandeglang

Minggu, Juni 21, 2026, 16:06 WIB Last Updated 2026-06-21T09:06:28Z

Pandeglang, kompasone.com  – Kepulangan perdana jemaah haji asal Kabupaten Pandeglang di Pendopo Kabupaten Pandeglang, Sabtu (20/6/2026), tak hanya disambut haru, tetapi juga diiringi catatan evaluasi tajam terhadap penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.Termasuk sorotan terhadap kementerian haji dan umroh sebagai penyelenggara.


Sebanyak 384 jemaah yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 13 tiba di Pandeglang setelah menuntaskan rangkaian ibadah haji di Arab Saudi. Rombongan terdiri dari 163 jemaah laki-laki dan 221 jemaah perempuan.


Di balik rasa syukur usai menunaikan rukun Islam kelima, sejumlah jemaah mengungkapkan berbagai keluhan yang dinilai tidak bisa dianggap sepele, terutama terkait akomodasi, konsumsi, hingga layanan kesehatan.


Salah satu jemaah asal Kecamatan Munjul, H. Maksum Mansyur, mengaku bersyukur dapat kembali ke tanah air setelah menunggu antrean keberangkatan selama 13 tahun. Namun ia menegaskan, pelaksanaan haji tahun ini masih menyisakan catatan serius.


“Pelayanan petugas sebenarnya sudah cukup baik, kami terbantu. Tapi masalah utama itu jarak hotel ke Masjidil Haram yang terlalu jauh, sekitar 13,5 kilometer,” ujarnya.


Menurutnya, jarak tersebut bukan sekadar angka, melainkan beban nyata bagi jemaah, terutama lansia, yang harus berhadapan dengan suhu ekstrem Arab Saudi yang sempat mencapai 42 derajat Celsius.


“Ini sangat berat. Banyak jemaah yang sudah kelelahan sebelum sampai ke lokasi ibadah,” katanya.


Namun kritik paling tajam muncul dari sektor konsumsi dan kesehatan. Maksum menyebut menu makanan yang disajikan selama di Tanah Suci cenderung monoton dan tidak memperhatikan kebutuhan gizi jemaah.


“Menu makan pagi, siang, malam itu kurang variasi. Terus berulang. Ini harus jadi perhatian serius, karena sangat berpengaruh pada kondisi fisik jemaah,” ucapnya.


Lebih jauh, ia mengungkapkan adanya jemaah dalam kloternya yang harus mendapatkan perawatan intensif hingga dirujuk ke ruang ICU akibat kondisi kesehatan yang menurun selama pelaksanaan ibadah.


“Bahkan ada dari rombongan kami yang sampai sekarang masih dirawat di ICU. Ini bukan hal kecil, ini harus jadi evaluasi besar,” ungkapnya.


Layanan kesehatan pun ikut disorot. Meski petugas medis dinilai sigap, ia menilai efektivitas penanganan dan kualitas obat-obatan masih perlu ditingkatkan.


“Petugasnya bagus, cepat tanggap. Tapi obat-obatan yang diberikan kadang tidak langsung berdampak. Keluhan seperti flu dan demam butuh waktu lama untuk sembuh,” ujarnya.


Meski demikian, ia tetap mengapresiasi kerja petugas haji yang telah membantu jemaah melewati rangkaian ibadah di tengah kondisi yang tidak mudah.


“Kalau secara umum ibadah berjalan lancar, itu kami syukuri. Tapi catatan-catatan ini jangan dianggap kecil,” Pungkasnya.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, kepulangan Kloter 13 menjadi awal dari rangkaian pemulangan jemaah haji asal Pandeglang tahun 2026. Kloter 17 dan Kloter 23 dijadwalkan menyusul pada 23 dan 28 Juni 2026 mendatang.


Di tengah suasana syukur, rangkaian kritik dari jemaah ini menjadi sorotan tersendiri. Sebab, di balik suksesnya penyelenggaraan ibadah, masih tersisa pertanyaan besar soal standar layanan dasar yang langsung berdampak pada kondisi kesehatan dan kenyamanan jemaah di Tanah Suci.


(Ali hamzah)

Iklan

iklan